Allah adalah Pribadi yang kekal. Ia ada sebelum segala sesuatu diciptakan dan akan tetap ada setelah segala sesuatu berlalu. Tidak ada awal bagi keberadaan-Nya, dan tidak ada akhir bagi kuasa serta kemuliaan-Nya. Firman Tuhan menyatakan, “Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi serta dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Mazmur 90:2). Inilah kesaksian iman yang teguh: Allah tidak diciptakan, Ia adalah sumber dari segala yang ada.
Ketika manusia mencoba memahami kekekalan Allah, pikiran kita yang terbatas sering kali tidak sanggup mencernanya sepenuhnya. Kita hidup dalam dimensi waktu—ada awal dan akhir. Namun Allah berada di luar waktu; Dialah yang menciptakan waktu itu sendiri. Semua ciptaan bergantung kepada-Nya, tetapi Allah tidak bergantung pada apa pun. Ia ada oleh diri-Nya sendiri (self-existent), dan keberadaan-Nya tidak membutuhkan dukungan dari makhluk atau alam semesta. Ia adalah “Aku adalah Aku” (Keluaran 3:14), yang menandakan keberadaan yang mutlak dan tidak berubah.
Kekekalan Allah membawa penghiburan besar bagi umat percaya. Karena Ia tidak berubah, maka kasih, janji, dan kesetiaan-Nya juga tidak berubah. Ketika dunia terus berganti dan segala hal fana berlalu, Allah tetap sama. Ia tidak pernah lelah, tidak pernah lenyap, dan tidak pernah gagal dalam menggenapi firman-Nya. Iman kepada Allah yang kekal memberi dasar yang kokoh bagi kehidupan rohani kita. Dalam setiap masa, kita dapat bersandar pada tangan-Nya yang teguh dan kasih-Nya yang tak berkesudahan.
Selain itu, kekekalan Allah juga mengingatkan kita tentang keterbatasan manusia. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Semua yang kita miliki akan berlalu, tetapi Allah dan firman-Nya akan tinggal selama-lamanya. Karena itu, bijaksanalah jika kita mengarahkan hati dan hidup kita kepada hal-hal yang kekal, bukan yang fana. Yesus Kristus, Sang Firman yang kekal, datang untuk membuka jalan agar manusia dapat bersekutu dengan Allah yang kekal itu. Melalui iman kepada-Nya, kita menerima hidup yang tidak berkesudahan—suatu bagian dalam kekekalan bersama Tuhan.
Hendaknya setiap orang percaya memandang kehidupan ini dalam terang kekekalan. Setiap keputusan, pekerjaan, dan pelayanan hendaknya dilakukan dengan kesadaran bahwa semuanya akan diuji di hadapan Allah yang kekal. Kita dipanggil untuk hidup bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk selama-lamanya. Sebab hanya di dalam Dia, keberadaan kita menemukan makna sejati.
Kesimpulan:
Allah yang kekal adalah dasar dari segala sesuatu. Ia ada sebelum waktu, menopang seluruh ciptaan, dan akan tetap berkuasa selama-lamanya. Dialah tempat perlindungan yang teguh bagi orang percaya. Maka, arahkanlah hidupmu kepada-Nya, sebab hanya yang berpegang kepada Allah yang kekal akan tinggal tetap untuk selama-lamanya.