Eksposisi Kejadian 1-Allah Pencipta

Teks: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”Kejadian 1:1

1. Awal Segala Sesuatu Dimulai dari Allah

Kalimat pertama Alkitab membuka seluruh sejarah keberadaan dengan pernyataan yang mutlak: “Pada mulanya Allah…”. Tidak ada argumen untuk membuktikan keberadaan-Nya; Alkitab memulai dengan fakta eksistensi Allah yang kekal. Ia adalah sumber, penyebab pertama, dan pusat dari seluruh ciptaan. Sebelum ada waktu, ruang, dan materi, Allah sudah ada. Ia tidak diciptakan—Ia ada dengan sendirinya (self-existent) dan tidak bergantung pada apa pun.

2. Allah sebagai Pencipta yang Berdaulat

Kata Ibrani untuk “menciptakan” adalah baraʼ, yang hanya digunakan untuk tindakan Allah. Ini menunjukkan penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo)—bukan membentuk dari bahan yang sudah ada. Allah berbicara, dan segala sesuatu ada. “Berfirmanlah Allah: Jadilah terang! Maka terang itu jadi” (Kej. 1:3). Firman-Nya cukup berkuasa untuk mewujudkan realitas. Tidak ada yang mustahil bagi Allah karena Ia adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas seluruh alam semesta.

3. Tatanan dan Hikmat dalam Ciptaan

Kejadian 1 menggambarkan bukan hanya penciptaan yang ajaib, tetapi juga tatanan dan keteraturan ilahi. Allah bekerja dalam enam hari dengan pola yang sistematis: Ia membentuk (hari 1–3) dan mengisi (hari 4–6). Dunia ini bukan hasil kebetulan, melainkan manifestasi hikmat dan rencana Allah. Dari terang dan gelap, daratan dan lautan, hingga makhluk hidup dan manusia — semuanya menunjukkan desain cerdas dari Sang Pencipta yang penuh kasih dan tujuan.

4. Manusia sebagai Puncak Ciptaan

Hari keenam merupakan puncak karya penciptaan: manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26–27). Hanya manusia yang menerima kehormatan ini — mencerminkan karakter Allah dalam moralitas, akal budi, dan hubungan. Tugas manusia adalah memerintah dan mengelola bumi sebagai wakil Allah. Penciptaan manusia bukan sekadar biologis, melainkan juga teologis: manusia dicipta untuk mengenal, menyembah, dan memuliakan Penciptanya.

5. Ciptaan Itu “Sungguh Amat Baik”

Setelah seluruh ciptaan selesai, Allah melihat semua yang dijadikan-Nya, dan “sungguh amat baiklah semuanya itu” (Kej. 1:31). Ini menegaskan bahwa dunia ciptaan pada awalnya tidak mengandung kejahatan atau kerusakan. Segala sesuatu berada dalam harmoni dengan kehendak Allah. Keindahan, keteraturan, dan kebaikan alam semesta mencerminkan kemuliaan Allah yang sempurna.

6. Aplikasi bagi Iman Kita

Mengenal Allah sebagai Pencipta membawa dampak besar bagi iman Kristen:

  • Kita hidup dalam ciptaan, bukan kebetulan. Segalanya memiliki makna dan tujuan.

  • Kita harus menghormati Allah sebagai Pemilik hidup ini.

  • Kita dipanggil menjadi pengelola ciptaan-Nya, bukan perusak.

  • Kita menemukan identitas sejati bukan pada dunia, tetapi pada Allah yang menciptakan kita serupa dengan-Nya.

7. Kristus dalam Penciptaan

Perjanjian Baru menyingkapkan bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang mencipta (Yoh. 1:1–3; Kol. 1:16). Dialah Allah yang aktif dalam penciptaan dan juga dalam penebusan. Melalui Dia, dunia diciptakan; melalui Dia pula dunia diselamatkan. Pencipta dan Penebus adalah Pribadi yang sama. Maka, kita menyembah Yesus bukan hanya karena Ia Juruselamat, tetapi juga karena Ia adalah Pencipta segala sesuatu.


Kesimpulan

Kejadian 1 bukan sekadar kisah asal-usul dunia, tetapi wahyu tentang siapa Allah itu: kekal, berdaulat, berhikmat, dan penuh kasih. Ia menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya dan memanggil manusia untuk hidup dalam relasi dengan-Nya. Di tengah dunia yang meragukan keberadaan Tuhan, Kejadian 1 menegaskan kebenaran abadi:

“Segala sesuatu berasal dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36)

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *