Keluarga Sebagai Rencana Allah

Sejak semula, Allah telah menetapkan keluarga sebagai bagian dari rencana-Nya yang kudus bagi manusia. Keluarga bukanlah hasil kebetulan, melainkan rancangan ilahi yang mencerminkan kasih, kesatuan, dan kehendak Allah sendiri. Di dalam keluarga, manusia belajar mengenal kasih, tanggung jawab, dan pengorbanan—nilai-nilai yang bersumber dari hati Allah.

Ketika Allah menciptakan manusia, Ia berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Dari sanalah lahir lembaga pertama yang ditetapkan Allah—perkawinan antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian membentuk keluarga. Keluarga adalah dasar dari masyarakat dan cerminan hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya (Efesus 5:25-33).

Dalam keluarga yang berpusat pada Kristus, kasih menjadi dasar utama. Kasih bukan hanya perasaan, melainkan tindakan yang nyata: saling menghargai, saling mengampuni, dan saling menopang dalam setiap keadaan. Keluarga yang dibangun atas dasar kasih Allah akan menjadi tempat pertumbuhan rohani, penghiburan, dan pembentukan karakter bagi setiap anggotanya.

Namun, di tengah dunia modern yang penuh tantangan, nilai-nilai keluarga sering diabaikan. Banyak keluarga hancur karena egoisme, kurangnya komunikasi, atau hilangnya komitmen terhadap firman Tuhan. Oleh karena itu, setiap keluarga Kristen dipanggil untuk kembali kepada rancangan Allah—menjadikan Kristus sebagai pusat dan firman-Nya sebagai dasar.

Orang tua dipanggil untuk menjadi teladan iman bagi anak-anak mereka. Ulangan 6:6-7 menegaskan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu.” Pendidikan iman dimulai dari rumah, bukan hanya di gereja. Anak-anak belajar tentang kasih, iman, dan ketaatan pertama-tama dari kehidupan orang tuanya.

Keluarga yang hidup dalam ketaatan kepada Allah akan menjadi terang bagi dunia. Mereka menunjukkan kepada orang lain bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari kekayaan atau prestasi, melainkan dari hubungan yang intim dengan Tuhan dan kasih yang tulus antaranggota keluarga.

Marilah setiap keluarga Kristen meneguhkan kembali panggilannya sebagai bagian dari rencana Allah. Bangunlah rumah tangga di atas batu karang, yaitu Kristus sendiri. Biarlah keluarga kita menjadi tempat di mana kasih Allah dirasakan, firman-Nya diajarkan, dan nama-Nya dimuliakan.

“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” (Yosua 24:15)

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *