Dalam bagian ini Yesus memakai bahasa yang sangat keras dan simbolis untuk menjelaskan kebenaran terdalam tentang hubungan manusia dengan Dia. Setelah Ia memberi makan lima ribu orang dan menyatakan diri sebagai “Roti Hidup”, Yesus melanjutkan penjelasan-Nya dengan berkata bahwa manusia harus “makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya” untuk memperoleh hidup kekal. Perkataan ini menimbulkan kegemparan, tetapi justru di sinilah inti teologi Injil Yohanes tentang iman dan keselamatan.
Yesus memulai dengan sebuah pernyataan yang mutlak: manusia tidak akan memiliki hidup di dalam dirinya tanpa makan daging dan minum darah-Nya (ay. 53). Di sini Yesus sedang menegaskan bahwa keselamatan tidak mungkin diperoleh melalui usaha manusia, melainkan hanya melalui karya-Nya sendiri. Bahasa “makan” dan “minum” merupakan cara Ibrani untuk menggambarkan penerimaan yang total—membawa sesuatu ke dalam diri, menjadikannya bagian yang tidak terpisahkan dari hidup. Dengan demikian Yesus sebenarnya berbicara tentang penerimaan pribadi kepada diri-Nya sebagai Mesias yang akan menyerahkan tubuh dan darah-Nya bagi dunia.
Ayat berikutnya (ay. 54) memperjelas tujuan dari tindakan simbolis itu: orang yang “makan dan minum” itu memiliki hidup kekal dan akan dibangkitkan pada akhir zaman. Yesus tidak berbicara tentang makan secara fisik, tetapi tentang respons iman yang bersandar sepenuhnya pada pengorbanan-Nya. Daging yang diberikan dan darah yang ditumpahkan—keduanya menunjuk ke salib. Iman kepada karya salib itulah yang memberi hidup kekal dan jaminan kebangkitan. Hidup kekal bukanlah kondisi setelah mati saja, melainkan hidup baru yang dimulai sejak seseorang menerima Kristus.
Ayat 55 membawa kita kepada penegasan bahwa daging dan darah Yesus adalah “makanan dan minuman yang benar”. Pernyataan ini menghubungkan Kristus dengan manna di padang gurun. Orang-orang Yahudi mengenal manna sebagai roti dari surga, tetapi Yesus sedang menunjukkan bahwa manna hanya gambar sementara. Makanan fisik itu tidak membawa hidup kekal; mereka yang memakannya tetap mati. Tetapi pengorbanan Yesus adalah makanan rohani sejati, karena melalui-Nya manusia menerima hidup yang tidak dapat dihancurkan oleh maut.
Pada ayat 56, makna metafora “makan” dan “minum” mencapai inti eksposisi. Orang yang makan dan minum itu “tinggal” di dalam Kristus, dan Kristus tinggal di dalam dia. Kata “tinggal” menggambarkan hubungan permanen, sebuah persekutuan yang terus-menerus. Ini bukan sekadar tindakan iman sesaat, melainkan kehidupan yang terus-menerus bersumber dari Kristus. Dengan demikian eksposisi bagian ini menunjukkan bahwa makan dan minum adalah gambaran union with Christ persatuan rohani antara Kristus dan orang percaya. Makanan jasmani menjadi bagian dari tubuh setelah dimakan; demikian pula Kristus menjadi pusat dan sumber hidup orang percaya yang bersatu dengan-Nya.
Ayat 57 memperdalam hubungan itu dengan memberikan perbandingan antara Yesus dan Bapa. Yesus berkata bahwa Ia hidup oleh Bapa, dan demikian juga siapa pun yang makan Dia akan hidup oleh Dia. Seperti Yesus bergantung secara sempurna kepada Bapa, demikian pula orang percaya dipanggil untuk hidup bergantung sepenuhnya kepada Kristus. Hidup rohani bukan berasal dari usaha moral atau kekuatan manusia, tetapi dari kehidupan Kristus yang mengalir dalam diri orang percaya. Eksposisi ayat ini menegaskan bahwa hubungan iman dengan Kristus bukan hanya menerima keselamatan, tetapi juga menerima kehidupan yang terus memelihara dan memperbarui.
Akhirnya, ayat 58 menutup dengan kontras yang kuat: manna vs. roti sejati dari surga. Dengan mengatakan bahwa nenek moyang mereka makan manna tetapi mati, Yesus sedang menunjukkan bahwa semua bentuk makanan, tradisi, ritual, dan usaha manusia tidak bisa memberikan hidup kekal. Hanya Kristus sebagai roti yang turun dari surga yang sanggup memberi hidup selama-lamanya. Ini adalah kesimpulan dari seluruh eksposisi: menerima Kristus, percaya kepada pengorbanan-Nya, dan hidup dari Dia adalah satu-satunya jalan menuju hidup kekal.
Karena itu, makna “makan dan minum darah Anak Manusia” bukanlah tindakan fisik, melainkan tindakan iman yang mendalam. Ini adalah gambaran puitis namun teologis tentang bagaimana manusia harus menerima Kristus sepenuh hati, menjadikan Dia pusat kehidupan, dan hidup dari kematian serta kebangkitan-Nya. Ajaran Yesus ini adalah panggilan untuk masuk ke dalam persatuan yang hidup dengan Dia—suatu relasi yang memberi hidup yang baru, hidup yang kekal, dan hidup yang bersumber dari Kristus sendiri.