Apakah Yesus Beragama? Apa Agama-Nya?

Pertanyaan mengenai apakah Yesus beragama sering muncul karena orang melihat kehidupan Yesus dari berbagai sudut pandang: sebagai Mesias, sebagai Anak Allah, tetapi pada saat yang sama Ia hadir di tengah sejarah manusia dan hidup di dalam suatu konteks budaya dan agama tertentu. Secara historis dan biblis, Yesus hidup sebagai seorang Yahudi. Ia lahir dari keluarga Yahudi, dibesarkan dalam tradisi Yahudi, memelihara perayaan-perayaan Yahudi, hadir di sinagoge, menghormati Taurat, dan berbicara memakai kategori teologis yang dikenal dalam lingkungan Yudaisme abad pertama. Kehidupan-Nya tidak pernah terlepas dari identitas tersebut. Dengan demikian, apabila pertanyaannya adalah apakah Yesus memiliki “agama” secara historis, maka jawabannya jelas: Yesus beragama Yahudi.

Namun eksposisi tidak berhenti pada fakta historis itu. Alkitab tidak menggambarkan Yesus hanya sebagai seorang penganut agama, melainkan sebagai penggenap dari seluruh sistem keagamaan Israel. Taurat, nabi-nabi, korban-korban persembahan, hari-hari raya, dan seluruh struktur ibadah Israel menunjuk kepada Dia. Karena itu Yesus sekaligus berada “di dalam” agama Yahudi secara lahiriah, tetapi juga “di atas” dan “di luar” agama itu dalam arti Ia adalah pemenuhan dan tujuan akhitnya. Ketika Ia berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Taurat tetapi menggenapinya, Yesus menunjukkan bahwa identitas keagamaan-Nya tidak berhenti pada ritual, tetapi pada misi ilahi yang digenapkan melalui hidup, mati, dan kebangkitan-Nya.

Yesus tidak pernah mendirikan agama baru yang dipisahkan dari akar Israel. Kekristenan muncul setelah kebangkitan-Nya sebagai komunitas orang percaya yang melihat Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Karena itu “agama Yesus” bukanlah kekristenan, sebab kekristenan adalah respons umat kepada pribadi-Nya setelah karya penebusan selesai. Dalam hidup-Nya di dunia, Yesus menghidupi Yudaisme secara sempurna, tanpa dosa, dan sekaligus menyingkapkan makna terdalam dari seluruh hukum dan ibadah tersebut. Ia menghadiri sinagoge, membaca kitab nabi Yesaya, merayakan Paskah, dan menaati hukum moral Taurat. Namun Ia juga mengoreksi interpretasi religius yang dangkal dan menegaskan otoritas-Nya atas hukum itu sendiri, sehingga para pemimpin Yahudi terkejut ketika Ia berkata, “Kamu telah mendengar… tetapi Aku berkata kepadamu….” Pernyataan-pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa Yesus tidak sekadar menjadi penganut agama, melainkan otoritas terakhir di atas seluruh penyataan Allah.

Yesus beragama Yahudi, tetapi Ia tidak terikat oleh batasan-batasan eksklusif yang sering menghalangi manusia untuk mengerti maksud Allah. Ketika Ia berbicara kepada perempuan Samaria, Ia tidak membela sektarianisme Yahudi, tetapi menyingkapkan ibadah yang sejati: menyembah Bapa “dalam roh dan kebenaran.” Di sini kita melihat bahwa identitas keagamaan Yesus bukanlah identitas etnis atau ritual semata. Ia adalah Anak Tunggal Allah yang datang dalam tubuh manusia Yahudi untuk menebus manusia dari segala bangsa. Dengan demikian, agama-Nya secara historis adalah Yudaisme, tetapi esensi kehadiran-Nya melampaui struktur keagamaan dan menunjuk kepada keselamatan universal yang bersumber dari diri-Nya.

Kesimpulannya, Yesus beragama Yahudi secara historis, tetapi Ia bukan sekadar pengikut agama. Ia adalah pusat dari seluruh penyataan Allah, penggenap Taurat, dan satu-satunya jalan keselamatan. “Agama Yesus” bukan nama institusi, tetapi ketaatan sempurna kepada kehendak Bapa. Kekristenan lahir bukan dari identitas agama Yesus, melainkan dari pengakuan para murid bahwa Yesus adalah Tuhan, Mesias, dan Anak Allah yang hidup.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *