(Eksposisi 2 Korintus 5:7)
“Hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan” merupakan salah satu deklarasi paling kuat dalam seluruh Perjanjian Baru, yang merangkum esensi kehidupan Kristen. Ketika Paulus menuliskannya, ia tidak sedang menawarkan sebuah semboyan motivasional, melainkan sebuah prinsip eksistensial yang mendasari seluruh perjalanan orang percaya di tengah dunia yang gelap oleh penderitaan, ketidakpastian, dan ketidakterdugaan. Ayat ini berada dalam konteks besar tentang kefanaan tubuh jasmani, kerinduan akan rumah surgawi, dan keyakinan bahwa Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih mulia dari apa yang dapat dilihat. Karena itu, hidup oleh iman bukan sekadar memilih untuk “percaya”; tetapi berakar pada kesadaran bahwa realitas rohani yang Allah nyatakan jauh lebih mutlak daripada apa pun yang ditawarkan oleh indera manusia.
Penglihatan manusia bersifat terbatas dan mudah tertipu. Dunia yang tampak sering kali menyampaikan pesan bahwa keadaan kita ditentukan oleh situasi lahiriah: oleh sakit penyakit, tekanan ekonomi, relasi yang rumit, atau ketidakadilan yang kita alami. Jika seseorang hanya berjalan berdasarkan apa yang dapat ia lihat, maka ia akan mudah goyah, sebab dunia yang terlihat itu selalu berubah. Tetapi Paulus menegaskan bahwa orang percaya hidup dalam dimensi lain dimensi iman yang bersandar pada kebenaran Allah yang tidak berubah. Iman memampukan seseorang untuk melihat apa yang tidak tampak: kuasa Allah yang bekerja dalam kelemahan, penyertaan Allah ketika manusia merasa ditinggalkan, dan kemenangan rohani di balik setiap pergumulan.
Iman bukanlah angan-angan, atau harapan kosong yang dipaksakan. Iman adalah respon terhadap penyataan Allah di dalam Firman-Nya. Ketika Alkitab menyatakan karakter Allah sebagai setia, kudus, adil, dan penuh belas kasihan, maka orang percaya belajar menapaki kehidupannya berdasarkan karakter itulah, bukan berdasarkan kondisi yang kasat mata. Iman memindahkan dasar hidup dari perasaan kepada kebenaran, dari keadaan sementara kepada kekekalan, dari apa yang tampak kepada apa yang dijanjikan. Itulah sebabnya Paulus dapat tetap teguh sekalipun mengalami penderitaan bertubi-tubi, sebab ia hidup dari realitas rohani yang tidak bisa dilihat mata fisik namun nyata di hadapan Allah.
Hidup oleh iman juga berarti menundukkan tindakan dan keputusan kepada kehendak Allah meski hasilnya belum terlihat. Ketaatan selalu menuntut iman, sebab Allah kerap memanggil kita melangkah melampaui apa yang tampak masuk akal. Abraham berangkat ke negeri yang tidak ia ketahui; Musa berdiri di depan Laut Merah tanpa jalan terbuka; Petrus melangkah keluar dari perahu sebelum air itu tampak aman untuk dipijak. Pada momen-momen seperti inilah iman menunjukkan dirinya sebagai fondasi kehidupan rohani yang sejati. Penglihatan akan berkata: “Tidak mungkin.” Tetapi iman berkata: “Jika Allah berfirman, maka itu pasti.”
Bukan berarti hidup oleh iman menolak realitas atau mengabaikan fakta. Orang percaya bukan dipanggil untuk menutup mata terhadap dunia, melainkan melihat dunia dengan perspektif Allah. Penglihatan jasmani memberi informasi, tetapi iman memberi interpretasi yang benar. Kita boleh melihat raksasa di hadapan kita, tetapi iman berkata bahwa Allah lebih besar. Kita boleh melihat badai, tetapi iman melihat Tuhan yang memegang kendali. Kita boleh melihat ketidakpastian, tetapi iman melihat pemeliharaan Allah yang bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.
Akhirnya, hidup oleh iman memandang ke depan kepada kepenuhan kemuliaan yang Allah sediakan dalam Kristus. Apa yang tampak sekarang hanyalah sementara: tubuh ini fana, dunia ini berubah, dan segala pencapaian manusia akan berlalu. Namun orang percaya hidup dengan keyakinan bahwa apa yang dijanjikan Allah bersifat kekal. Iman membawa arah hidup kepada hal yang tidak dapat dihancurkan oleh waktu. Dengan iman, kita menanti apa yang Allah sedang kerjakan sampai hari ketika yang tidak tampak itu akhirnya terlihat.
Karena itu, panggilan hidup Kristen bukanlah berjalan berdasarkan apa yang tampak di depan mata, tetapi bersandar kepada Dia yang tidak kelihatan namun nyata. Kita berjalan bukan dengan kepastian yang diberikan oleh dunia, melainkan dengan keyakinan pada Firman yang tidak akan gagal. Di tengah segala ketidakpastian hidup ini, panggilan kita tetap sama: hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan.