Kristus Raja yang Memerintah dengan Salib

Ketika dunia berbicara tentang raja, gambaran yang muncul biasanya adalah keagungan, kekuasaan, dan kemegahan. Namun dalam diri Yesus Kristus, konsep kerajaan mengalami pembalikan radikal. Ia adalah Raja, tetapi tak mengenakan mahkota emas; Ia berkuasa, tetapi tak duduk di atas takhta gading. Kekuasaan-Nya dinyatakan bukan melalui pedang, melainkan melalui salib—sebuah instrumen kematian yang diubah-Nya menjadi lambang kemenangan dan keselamatan.

Kerajaan Kristus tidak berasal dari dunia ini (Yoh. 18:36). Ia tidak menaklukkan bangsa dengan kekuatan militer atau strategi politik, tetapi menaklukkan hati manusia melalui kasih yang berkorban. Di atas salib, tampaknya Ia kalah ditinggalkan, dihina, dan disalibkan di antara penjahat. Namun justru dalam kerendahan dan penderitaan itu, kemuliaan sejati tampak. Ketika Ia berkata, “Sudah selesai,” Ia bukan menyerah, melainkan menyatakan kemenangan atas dosa, maut, dan kejahatan. Salib menjadi takhta-Nya, dan paku-paku yang menembus tangan-Nya menjadi lambang cinta yang memerintah tanpa penindasan.

Sebagai Raja yang memerintah dengan salib, Kristus mendefinisikan ulang kuasa. Bagi-Nya, memerintah berarti melayani; menguasai berarti mengampuni; menang berarti menyerahkan diri. Ia tidak memaksa manusia tunduk, tetapi mengundang mereka memasuki kerajaan kasih dan kebenaran. Kerajaan ini hadir dalam hati orang-orang yang bersedia mengikuti-Nya mereka yang mengutamakan kebenaran, mengasihi musuh, dan hidup dalam damai sejahtera yang melampaui pengertian.

Melalui salib, Kristus menunjukkan bahwa jalan menuju kehidupan bukanlah melalui kekerasan, tetapi melalui pengorbanan; bukan melalui kebesaran diri, tetapi melalui kerendahan hati. Begitulah Ia memerintah bukan dengan mengangkat diri-Nya tinggi, tetapi dengan merendahkan diri sampai mati. Dan justru karena itulah Allah meninggikan-Nya dan memberi-Nya nama di atas segala nama (Flp. 2:9–11).

Bagi kita, pengikut-Nya, kerajaan ini bukan hanya sebuah konsep rohani, tetapi sebuah panggilan hidup. Kita dipanggil untuk meneladani Raja yang memerintah dengan kasih, untuk membawa damai di tengah kekerasan, untuk tetap setia meski harus memikul salib. Memerintah bersama Kristus berarti membiarkan karakter-Nya tercermin dalam tindakan kita—sabar, lemah lembut, tetapi teguh dalam kebenaran.

Pada akhirnya, Kristus Raja menunjukkan bahwa kuasa sejati bukanlah kemampuan untuk memaksa, melainkan kemampuan untuk mengasihi tanpa syarat. Salib yang dulu menjadi simbol kehinaan kini menjadi lambang pengharapan, karena di sanalah Raja segala raja menegakkan kerajaan yang tidak dapat digoncangkan. Dan dengan iman, kita mengakui bahwa Ia memerintah bukan hanya di surga, tetapi juga dalam setiap hidup yang menyerahkan diri kepada-Nya.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *