Jika Allah Mahakuasa, Mengapa Tidak Mencegah Kejahatan?

Pertanyaan tentang mengapa Allah yang Mahakuasa tidak mencegah kejahatan telah lama menjadi pergumulan manusia di berbagai zaman. Banyak orang bertanya: “Jika Allah benar-benar berkuasa dan penuh kasih, mengapa Ia membiarkan penderitaan, kekejaman, dan ketidakadilan terjadi?” Untuk menjawabnya, kita perlu melihat beberapa prinsip utama yang Alkitab sampaikan mengenai hakikat Allah, manusia, dan dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Pertama, Alkitab menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Kasih yang sejati tidak dapat dipaksakan; ia hanya mungkin bila manusia diberi kemampuan memilih. Jika Allah mencegah setiap tindakan jahat secara otomatis, maka kebebasan moral manusia tidak lagi nyata. Manusia akan menjadi seperti robot yang tidak dapat melakukan kesalahan, tetapi juga tidak dapat mengasihi secara tulus. Karena itu, sebagian besar kejahatan yang terjadi adalah konsekuensi pilihan moral manusia, bukan kegagalan Allah untuk bertindak.

Kedua, dunia saat ini berada dalam kondisi rusak akibat kejatuhan dalam dosa. Sejak manusia memberontak di taman Eden, dampak dosa merembes ke seluruh ciptaan: struktur masyarakat, relasi antarmanusia, dunia alam, bahkan kecenderungan hati manusia sendiri. Alkitab menggambarkan bahwa penderitaan—baik yang terjadi karena perbuatan manusia maupun bencana alam—merupakan bagian dari realitas dunia yang telah jatuh. Allah tidak menjadi penyebab kejahatan itu, tetapi Ia mengizinkan manusia mengalami akibat dari dunia yang telah jauh dari kehendak-Nya.

Ketiga, Allah sering menggunakan penderitaan untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan yang lebih besar. Meskipun sulit dipahami, banyak pengalaman hidup menunjukkan bahwa karakter manusia justru ditempa melalui tekanan dan kesulitan. Kesabaran, ketabahan, belas kasih, dan pengharapan tidak muncul dalam hidup yang bebas masalah. Alkitab sendiri mencatat bahwa Allah dapat mengubah situasi jahat menjadi sumber kebaikan (Kej. 50:20; Rm. 8:28). Ini bukan berarti penderitaan itu baik, tetapi Allah sanggup menebusnya.

Keempat, penting diingat bahwa Allah bukan tidak bertindak, tetapi Ia memiliki rencana keselamatan yang berlangsung dalam sejarah. Melalui Kristus, Allah turun ke dalam dunia yang penuh kejahatan untuk menanggung penderitaan manusia. Salib menunjukkan bahwa Allah tidak jauh dari rasa sakit dan ketidakadilan; Ia sendiri masuk ke dalamnya untuk membawa pemulihan. Kemenangan Kristus menjamin bahwa suatu saat Allah akan menghapus seluruh kejahatan secara tuntas. Namun penggenapan penuh dari rencana itu menunggu pada waktu-Nya—saat penghakiman terakhir dan penciptaan langit dan bumi yang baru.

Akhirnya, pertanyaan tentang kejahatan bukan hanya masalah intelektual tetapi juga eksistensial. Alkitab tidak selalu memberi penjelasan rinci untuk setiap kejadian buruk, tetapi memberikan jaminan karakter Allah: Ia Mahakuasa, Ia Mahakasih, dan Ia setia. Walaupun kita tidak selalu memahami alasan di balik setiap penderitaan, kita dipanggil untuk percaya kepada Allah yang telah menunjukkan kasih-Nya melalui Yesus Kristus, dan yang menjanjikan bahwa kejahatan tidak akan memiliki kata akhir.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *