Mengapa Perjanjian Lama Terlihat Kejam Sementara Perjanjian Baru Penuh Kasih?

Pertanyaan mengenai perbedaan nada antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) adalah salah satu isu paling sering dibahas dalam teologi Kristen. PL sering dipandang keras, penuh hukuman, peperangan, dan tindakan ilahi yang tampak tegas bahkan “kejam”. Sementara PB identik dengan belas kasih, pengampunan, dan kelembutan Kristus. Namun anggapan ini biasanya muncul karena pembacaan yang terpisah, tanpa memahami konteks sejarah, tujuan penulisan, serta progresivitas penyataan Allah. Eksposisi berikut menjelaskan mengapa kedua bagian Kitab Suci tampak sangat berbeda, namun sesungguhnya menyatakan Allah yang sama, dengan karakter yang konsisten dari awal hingga akhir.

1. Allah yang Sama, Tetapi Penyataan-Nya Bertahap

Dalam PL, Allah menyatakan diri-Nya secara bertahap kepada umat manusia. Dunia pada zaman tersebut berada dalam kondisi brutal: peperangan antar suku, pembunuhan sebagai norma, perbudakan, kekerasan berlapis budaya, dan penyembahan berhala yang kadang melibatkan pengorbanan anak. Keberdosaan manusia di tahap ini sangat parah sehingga penyataan Allah pun harus tegas seperti dokter yang melakukan tindakan keras untuk menyelamatkan pasien yang kritis.

PB hadir pada tahap penyataan yang sudah matang. Melalui Kristus, kita melihat puncak kasih Allah, karena rencana keselamatan sudah mendekati penyelesaiannya. Bukan Allah yang berubah—melainkan manusia yang semakin memahami-Nya.

2. Kekerasan dalam Perjanjian Lama Bersifat Yudisial dan Kontekstual

Banyak tindakan keras Allah dalam PL bukanlah kemarahan tanpa alasan, tetapi penghakiman atas bangsa-bangsa yang sangat rusak secara moral. Perjanjian Lama adalah masa ketika Allah membentuk bangsa perjanjian, yaitu Israel, agar menjadi saluran berkat bagi dunia. Untuk itu, mereka harus dipisahkan dari kebudayaan kafir yang sangat rusak. Hukuman-hukuman yang terlihat keras merupakan:

  • Tindakan yudisial terhadap dosa yang berat

  • Perlindungan agar Israel tidak rusak dan akhirnya gagal menjalankan rencana keselamatan

  • Teguran moral bagi seluruh dunia bahwa Allah membenci kejahatan

Tanpa ketegasan ilahi itu, Israel tidak akan bertahan sebagai bangsa yang menjaga penyataan Allah hingga Mesias datang.

3. Kasih Dalam Perjanjian Lama Sebenarnya Sangat Dominan

Walaupun PL sering dianggap keras, sebenarnya kasih Allah sangat jelas: Ia sabar, berulang kali mengampuni, memulihkan, bersabar dengan pemberontakan Israel, menyediakan nabi-nabi, dan menahan murka-Nya selama berabad-abad. Bahkan hukum Taurat yang tampak keras justru memuat banyak prinsip sosial yang jauh lebih manusiawi daripada bangsa-bangsa di sekitarnya.

Jika dibaca menyeluruh, PL memperlihatkan Allah yang penuh kasih, tetapi kasih itu dinyatakan melalui standar kekudusan dan keadilan yang tegas.

4. Kasih dalam Perjanjian Baru Tidak Menghilangkan Keadilan

PB dipenuhi kasih karena di dalamnya Allah memberikan puncak penyataan kasih-Nya yaitu Yesus Kristus. Namun kasih Kristus tidak meniadakan keadilan Allah. Justru salib adalah tempat kasih dan keadilan bertemu: dosa tetap harus dihukum, tetapi hukuman itu ditanggung oleh Kristus sebagai korban pengganti.

PB juga tetap berbicara tentang:

  • Penghakiman akhir

  • Hukuman bagi yang menolak Injil

  • Teguran keras Yesus terhadap kemunafikan

  • Kekudusan gereja dalam Roh

Kasih Kristus bukan kasih yang lembek, melainkan kasih yang memulihkan dengan dasar kekudusan Allah.

5. Perbedaan Nada Disebabkan Oleh Tahap Cerita Penyelamatan

PL adalah fondasi, PB adalah penggenapan.
PL adalah diagnosis, PB adalah pengobatan.
PL menunjukkan keparahan dosa, PB menunjukkan kelimpahan anugerah.
PL banyak berfokus pada bangsa, PB berfokus pada Seluruh dunia dan hati manusia.

Ketika rencana keselamatan mencapai puncaknya di dalam Kristus, nada Injil menjadi penuh belas kasihan karena jalan keselamatan telah dibukakan sepenuhnya. Namun ini bukan berarti Allah dalam PL keras dan Allah dalam PB lembut; keduanya menampilkan wajah Allah yang sama, namun dalam fase yang berbeda dari cerita penebusan.

6. Kesimpulan: Dua Perjanjian, Satu Allah, Satu Cerita

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak sedang menampilkan dua Allah yang berbeda. Keduanya menyatakan:

  • Allah yang sama

  • Kekudusan yang sama

  • Kasih yang sama

  • Keadilan yang sama

  • Rencana keselamatan yang sama

Perbedaannya adalah konteks penyataan. PL menunjukkan betapa seriusnya dosa dan betapa besar kebutuhan manusia akan keselamatan. PB menunjukkan betapa besar kasih Allah dalam menyediakan keselamatan itu melalui Kristus. Dengan demikian, yang tampak berbeda sebenarnya adalah sudut pandang manusia. Ketika kedua perjanjian dibaca sebagai satu kesatuan, kita tidak lagi melihat pertentangan, melainkan harmoni dari cerita besar penebusan Allah dari awal hingga akhir.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *