Pertanyaan apakah Allah Perjanjian Lama sama dengan Allah Perjanjian Baru muncul karena banyak orang melihat kontras yang tajam di antara keduanya. Dalam Perjanjian Lama, Allah sering digambarkan sebagai Allah yang menghukum, menghakimi, dan bertindak tegas terhadap dosa. Sementara dalam Perjanjian Baru, Allah terlihat penuh kasih, lemah lembut, dan penuh pengampunan melalui pribadi Yesus Kristus. Namun, jika ditelusuri secara mendalam, kedua gambaran ini bukanlah dua Allah yang berbeda, melainkan dua sisi dari pribadi Allah yang sama: Allah yang adil sekaligus penuh kasih, Allah yang tidak berubah dari kekal sampai kekal.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menyatakan sifat-Nya melalui tindakan yang menegakkan kekudusan. Ketika Ia menghukum bangsa-bangsa, atau bahkan umat Israel sendiri, bukan karena Ia kejam, tetapi karena Ia kudus dan tidak mentolerir dosa yang merusak ciptaan-Nya. Hukuman dalam Perjanjian Lama selalu muncul setelah peringatan berulang-ulang, setelah kesabaran Allah yang panjang, dan selalu memiliki tujuan pemulihan. Allah yang sama juga mengungkapkan kasih-Nya di seluruh Perjanjian Lama: Ia memelihara Israel di padang gurun, Ia mengampuni mereka berkali-kali, Ia mengutus nabi-nabi agar mereka kembali kepada-Nya, dan Ia tekun memegang perjanjian-Nya meskipun umat-Nya berulang kali tidak setia. Bahkan dalam tindakan penghukuman, kasih Allah tetap terlihat, karena Ia menghukum untuk memulihkan, bukan untuk membinasakan tanpa tujuan.
Memasuki Perjanjian Baru, kasih dan kesabaran Allah dinyatakan dalam puncaknya melalui kedatangan Yesus Kristus. Namun kasih ini bukanlah sesuatu yang baru. Kasih itu adalah kelanjutan dari kasih yang sama yang telah Ia tunjukkan sejak awal. Hanya saja, di dalam Yesus, kasih itu menjadi nyata di dalam bentuk yang paling jelas dan paling dekat dengan manusia. Yesus bukan Allah yang berbeda dari Allah Perjanjian Lama; Ia adalah Allah yang sama yang mengenakan tubuh manusia. Bahkan Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan Taurat dan para nabi, tetapi untuk menggenapinya. Ia berulang kali mengutip Perjanjian Lama sebagai otoritas, menunjukkan bahwa Ia sejalan dengan apa yang Allah telah kerjakan sebelumnya.
Yang sering dilupakan adalah bahwa Perjanjian Baru juga menampilkan sisi keadilan Allah yang tegas, seperti dalam penghakiman atas Ananias dan Safira, atau penegasan bahwa murka Allah nyata atas semua orang yang menolak kasih karunia-Nya. Jadi, Perjanjian Baru bukan hanya kasih tanpa keadilan, dan Perjanjian Lama bukan hanya keadilan tanpa kasih. Kedua bagian Alkitab menghadirkan Allah yang sama, dengan karakter yang konsisten: Allah yang benar, adil, kudus, penuh kasih, panjang sabar, tetapi juga tidak membiarkan dosa tanpa konsekuensi.
Perbedaan utama bukan pada Allah-nya, tetapi pada tahap penyataan-Nya. Perjanjian Lama ibarat fondasi, di mana Allah memperkenalkan diri-Nya, menunjukkan standar kekudusan-Nya, dan membentuk suatu bangsa agar melalui mereka rencana keselamatan dinyatakan. Perjanjian Baru adalah puncak dari penyataan itu, saat rencana keselamatan tersebut diwujudkan secara penuh dalam Kristus. Apa yang samar di Perjanjian Lama menjadi terang di Perjanjian Baru. Apa yang disimbolkan melalui korban dan imam dalam Perjanjian Lama, digenapi secara sempurna dalam korban Kristus di kayu salib.
Karena itu, Allah Perjanjian Lama dan Allah Perjanjian Baru bukanlah dua pribadi yang berbeda. Ia adalah Allah yang sama yang menyatakan diri secara progresif kepada manusia. Ia tetap sama dalam karakter, sama dalam tujuan, dan sama dalam kasih maupun keadilan. Yang berubah hanyalah cara Ia menyatakan diri sesuai dengan rencana keselamatan yang berjalan dari zaman ke zaman. Ketika kita membaca kedua perjanjian ini sebagai satu kesatuan, barulah kita melihat wajah Allah yang lengkap: Allah yang adil dan kudus, tetapi juga Allah yang penuh belas kasihan; Allah yang membenci dosa, tetapi mengasihi manusia; Allah yang menghukum untuk memulihkan, dan pada akhirnya Allah yang menyediakan keselamatan sempurna dalam Kristus.
Dengan memahami kesatuan ini, kita menyadari bahwa Allah yang kita sembah hari ini adalah Allah yang sama sejak awal penciptaan. Ia tidak berubah, tidak berkontradiksi, dan tidak berubah sikap di tengah jalan. Ia adalah Allah yang sama dalam kekudusan-Nya, dalam kasih-Nya, dan dalam rencana-Nya yang kekal bagi keselamatan manusia.