Pertanyaan tentang mengapa Allah membiarkan Iblis tetap hidup adalah salah satu isu teologis yang sering muncul ketika manusia mencoba memahami hubungan antara kedaulatan Allah, keberadaan kejahatan, serta rencana keselamatan. Alkitab menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa dan mampu melenyapkan Iblis kapan saja. Namun kenyataannya, Iblis tetap hidup, bekerja, dan menggoda manusia hingga hari ini. Hal ini bukan karena Allah kurang kuasa, melainkan karena ada tujuan ilahi yang lebih besar di balik keberadaannya.
Pertama, keberadaan Iblis menegaskan kebebasan moral ciptaan. Allah tidak menciptakan robot, melainkan makhluk yang dapat memilih untuk taat atau memberontak. Malaikat pun diberi kehendak bebas, dan Iblis memilih untuk melawan Allah (Yes. 14:12–15; Yeh. 28:14–17). Dengan tetap mengizinkan Iblis hidup, Allah memperlihatkan kenyataan bahwa dosa dan pemberontakan memiliki konsekuensi. Iblis menjadi gambaran dari pilihan yang berlawanan dengan kehendak Allah—pilihan yang menghasilkan kehancuran.
Kedua, Allah membiarkan Iblis tetap hidup untuk menyatakan kemuliaan-Nya melalui kemenangan atas kejahatan, bukan hanya dengan melenyapkannya seketika. Jika Allah langsung menghancurkan Iblis pada saat ia jatuh, ciptaan mungkin tidak sepenuhnya mengerti mengapa pemberontakan itu jahat dan bertentangan dengan karakter Allah. Namun ketika Allah mengizinkan Iblis beroperasi dalam batas yang Dia tentukan, dunia dapat melihat betapa merusaknya dosa, dan betapa mulianya keadilan serta anugerah Allah ketika Ia mengalahkan kejahatan melalui Kristus. Kemenangan Kristus di salib dan kebangkitan-Nya justru menjadi lebih agung karena Ia mengalahkan musuh yang nyata, bukan musuh yang sudah dilenyapkan sebelumnya.
Ketiga, Allah memakai godaan Iblis untuk membentuk iman orang percaya. Iblis memang menggoda, tetapi ia tidak dapat bertindak di luar batas yang Tuhan tetapkan (Ayub 1–2). Dalam banyak bagian Alkitab, Iblis justru dipakai untuk menguji, menguatkan, dan menyaring iman umat-Nya (1 Ptr. 1:6–7; Yak. 1:2–4). Melalui pergumulan dengan pencobaan, orang percaya belajar taat, bergantung pada Allah, dan bertumbuh secara rohani. Dengan kata lain, meskipun Iblis bermaksud jahat, Allah dapat membalikkan situasi itu untuk kebaikan (Kej. 50:20).
Keempat, Allah membiarkan Iblis tetap hidup sebagai bagian dari rencana keselamatan yang sedang berlangsung. Alkitab menegaskan bahwa Iblis akan dihukum secara final (Why. 20:10), tetapi waktunya ditetapkan sesuai rancangan Allah. Dalam masa penantian ini, Injil diberitakan ke seluruh bangsa, gereja dibangun, dan dunia menyaksikan kontras antara kerajaan Allah dan kerajaan kegelapan. Dengan demikian, keberadaan Iblis justru menjadi panggung bagi penyataan kasih karunia Allah, kesetiaan Kristus, dan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.
Kelima, Allah membiarkan Iblis hidup agar setiap manusia benar-benar memilih siapa yang ia ikuti. Tanpa adanya pilihan yang berlawanan, ketaatan manusia kepada Allah bisa tampak seperti ketaatan terpaksa. Dengan adanya pencobaan dan godaan, setiap manusia memperlihatkan isi hatinya. Mereka yang memilih Allah melakukannya bukan karena tidak ada alternatif, tetapi karena mereka sungguh percaya bahwa Allah adalah yang paling layak disembah dan diikuti.
Pada akhirnya, keberadaan Iblis bukan merupakan bukti ketiadaan Allah atau kelemahan Allah, melainkan bagian dari rencana besar di mana Allah menyatakan kasih, keadilan, dan kuasa-Nya secara sempurna. Allah tidak tinggal diam; Ia telah menetapkan akhir dari Iblis. Namun sampai saat itu tiba, keberadaan Iblis justru memperjelas perbedaan antara kebenaran dan kejahatan, terang dan gelap, serta memperlihatkan betapa besar kasih Allah yang memberi jalan keselamatan melalui Yesus Kristus.
Jika kita melihat gambaran besar Alkitab, maka pertanyaan “Mengapa Allah membiarkan Iblis tetap hidup?” membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang karakter Allah: Ia Mahakuasa, bijaksana, panjang sabar, dan sedang bekerja membawa seluruh ciptaan pada pemulihan akhir di mana kejahatan tidak lagi memiliki tempat, dan Kristus merajai selamanya.