Pertanyaan ini muncul hampir di setiap diskusi tentang iman: apakah semua agama sebenarnya berbicara tentang Tuhan yang sama dan akhirnya membawa manusia ke tujuan yang sama? Sekilas, jawaban “iya” terdengar damai, sederhana, dan menyatukan. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, keyakinan-keyakinan besar dunia ternyata memiliki gambaran tentang Tuhan, keselamatan, dan jalan hidup yang sangat berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bukan sekadar variasi istilah, melainkan perbedaan konsep yang fundamental. Karena itu, tidak mungkin semuanya secara otomatis menyatu pada tujuan yang sama.
Sebagian agama memandang Tuhan sebagai pribadi yang dekat, mengasihi, dan aktif terlibat dalam sejarah manusia. Sebagian lainnya melihat yang ilahi sebagai kekuatan impersonal, energi kosmik, atau prinsip moral. Ada yang menekankan kelahiran kembali, hukum karma, dan pencapaian pencerahan sebagai jalan menuju pembebasan. Ada pula yang mengajarkan monoteisme mutlak dan hubungan perjanjian antara Tuhan dan manusia. Ajaran-ajaran ini tidak hanya berbeda, tetapi saling bertolak belakang dalam banyak aspek, seperti sifat Tuhan, tujuan akhir manusia, dan cara mencapai keselamatan. Dengan kata lain, masing-masing agama tidak sedang memberikan jawaban berbeda menuju satu kebenaran yang sama—melainkan menawarkan sistem kebenaran yang saling eksklusif.
Dalam iman Kristen, misalnya, keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, bukan pula hasil perjalanan spiritual yang panjang, tetapi anugerah melalui Kristus yang datang untuk menebus manusia. Konsep ini tidak ditemukan dalam sistem agama lain. Karena itu, menggabungkan semua agama sebagai jalan yang sama menuju Tuhan justru meniadakan inti dari ajaran masing-masing. Bila semua agama dianggap sama, maka tidak ada satu pun yang benar-benar memiliki makna khusus, dan setiap klaim kebenaran mereka kehilangan konsistensinya. Mengatakan “semua agama sama” terdengar baik, tetapi secara logis tidak selaras dengan apa yang masing-masing agama ajarkan tentang Tuhan dan keselamatan.
Namun satu hal penting: perbedaan ini bukan alasan untuk merendahkan atau memusuhi pemeluk agama lain. Pengakuan bahwa kebenaran tidak sama bukan berarti kita menolak hidup berdampingan dalam damai. Justru pengakuan jujur terhadap perbedaan membuat kita bisa berdialog dengan lebih menghargai dan tidak memaksakan klaim palsu bahwa kita semua mempercayai hal yang identik. Ketulusan, kerendahan hati, dan penghargaan terhadap sesama dapat tetap berjalan tanpa harus mengorbankan keyakinan inti.
Pada akhirnya, pertanyaan “apakah semua agama menuju Tuhan?” kembali pada satu hal: jika jalan-jalan itu saling berbeda bahkan bertentangan dalam inti ajarannya, maka tidak mungkin semuanya identik. Setiap orang perlu mengambil keputusan berdasarkan keyakinan, pemahaman, dan pencarian yang sungguh-sungguh. Yang terpenting bukanlah menyamakan semua jalan, tetapi mencari kebenaran dengan hati yang jujur, siap belajar, dan terbuka pada pimpinan Tuhan.