Jika Tanpa Salah, Bagaimana Menjelaskan Perbedaan Antar Injil?

Pertanyaan tentang perbedaan antar Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes sering muncul ketika orang membandingkan detail, urutan cerita, atau cara masing-masing penulis menyampaikan kisah Yesus. Jika Alkitab dianggap tidak salah, mengapa ada variasi? Apakah variasi itu menunjukkan kontradiksi, atau justru mengungkap sesuatu yang lebih dalam tentang cara Allah menyampaikan firman-Nya? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bahwa para penulis Injil bukanlah mesin penyalin, melainkan saksi dan teolog yang dipimpin Roh Kudus untuk menulis berdasarkan tujuan, konteks, dan audiens tertentu. Ketidaksamaan bukanlah kesalahan; justru perbedaan itu memperkaya pemahaman kita tentang Kristus dari sudut pandang yang berbeda namun saling melengkapi.

Pertama, perbedaan muncul karena tujuan penulisan masing-masing Injil berbeda. Injil Matius menulis terutama untuk orang Yahudi; ia sering mengutip Perjanjian Lama untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Markus menulis lebih singkat dan lugas, kemungkinan bagi pembaca non-Yahudi di Roma, sehingga lebih fokus pada tindakan dan kuasa Yesus. Lukas, seorang dokter dan peneliti, menulis dengan gaya sejarah yang sistematis untuk memberi penjelasan yang teratur dan terperinci kepada Teofilus. Yohanes menulis paling akhir dengan tujuan teologis yang jelas: agar orang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan memperoleh hidup dalam nama-Nya. Karena tujuan mereka berbeda, wajar jika pemilihan cerita, gaya penulisan, dan penekanan teologis juga tidak sama.

Kedua, perbedaan terjadi karena pilihan perspektif. Sama seperti empat saksi mata yang melihat satu kejadian dari sudut yang berbeda, mereka mungkin menyoroti detail yang tidak sama tetapi tetap benar. Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) melihat kehidupan Yesus dari perspektif naratif yang lebih kronologis, sedangkan Yohanes menekankan percakapan panjang, makna spiritual, dan identitas Yesus yang ilahi. Perbedaan ini menunjukkan kekayaan sudut pandang, bukan ketidaktepatan. Justru melalui beberapa perspektif inilah pembaca dapat melihat gambaran Yesus secara lebih utuh.

Ketiga, perbedaan juga muncul karena kebebasan literer yang diizinkan bagi para penulis. Dalam dunia kuno, penyusunan urutan peristiwa tidak selalu harus kronologis. Penulis bebas menyusun materi berdasarkan tema atau pesan yang ingin disampaikan, selama informasi yang diberikan tetap benar. Misalnya, khotbah Yesus mungkin disampaikan lebih dari sekali, atau disatukan oleh penulis Injil untuk menonjolkan ajaran tertentu. Penggabungan materi serupa bukanlah kesalahan, tetapi gaya penulisan yang lazim pada abad pertama.

Keempat, perbedaan dapat dijelaskan oleh fokus pesan, bukan sekadar fakta mentah. Injil bukan sekadar catatan jurnalistik, tetapi kesaksian rohani yang hendak membangkitkan iman. Roh Kudus menggerakkan penulis untuk memilih detail yang mendukung tujuan ilahi. Ada yang menekankan kemanusiaan Yesus, ada yang menonjolkan keilahian-Nya, ada yang menyoroti hubungan-Nya dengan nubuat, dan ada yang menegaskan kuasa-Nya atas alam dan penyakit. Variasi ini membuat kita tidak berhenti pada fakta sejarah saja, tetapi juga menangkap makna teologis yang lebih dalam.

Kelima, penting untuk memahami bahwa perbedaan tidak sama dengan pertentangan. Pertentangan terjadi bila dua pernyataan mustahil benar secara bersamaan. Namun sebagian besar perbedaan antar Injil bersifat “tambahan” atau “penekanan”, bukan “penyangkalan”. Satu Injil mungkin menonjolkan satu aspek peristiwa, sedangkan yang lain menambahkan detail pelengkap. Misalnya, ada dua malaikat atau satu malaikat di kubur? Markus menyebut satu malaikat yang berbicara, tetapi itu tidak menyangkal adanya dua; ia hanya menyoroti yang berbicara. Perbedaan fokus tidak berarti kekeliruan. Sama seperti seseorang menceritakan pernikahan dan menyebutkan “pendeta yang memimpin”, tanpa menyinggung para saksi atau panitia; itu tetap benar meski tidak lengkap.

Akhirnya, keselarasan antar Injil justru semakin terlihat ketika kita memahami bahwa Allah memakai manusia apa adanya, dengan gaya, latar belakang, dan penekanan masing-masing, tetapi tetap menjaga kebenaran inti. Injil bukan diseragamkan secara mekanis, melainkan diilhami secara hidup. Perbedaan-perbedaan ini membantu pembaca dari beragam budaya dan zaman memahami Yesus dengan cara yang lebih kaya. Empat Injil ibarat empat sisi berlian yang sama. Sisi-sisinya tidak identik, tetapi semuanya memantulkan cahaya yang sama yaitu kemuliaan Kristus.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *