Benarkah Yesus Duduk di Sebelah Kanan Allah? Atau Hanya Simbol Belaka?

Dalam iman Kristen, ungkapan bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa bukanlah kalimat simbolis biasa, melainkan pernyataan yang sarat makna tentang siapa Dia dan apa yang telah Ia kerjakan bagi dunia. Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, para rasul mewartakan bahwa Yesus tidak lagi berada dalam posisi penderita yang ditolak manusia, tetapi dimuliakan dan ditempatkan pada posisi tertinggi di hadapan Bapa. “Sebelah kanan” dalam budaya Ibrani adalah tempat kehormatan, otoritas, dan kuasa yang hanya diberikan kepada sosok yang setara dan diakui. Itu berarti Yesus tidak hanya kembali kepada Allah, tetapi Ia dipulihkan dalam kemuliaan yang sejak kekekalan memang menjadi milik-Nya. Di sana, Ia tidak pasif, bukan sekadar duduk tanpa peran. Ia berkuasa, memerintah, dan mengarahkan sejarah dengan otoritas surgawi sebagai Raja di atas segala raja.

Ketika dikatakan bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Bapa, itu juga berbicara tentang kemenangan-Nya atas dosa, maut, dan kejahatan. Setelah menyelesaikan karya penebusan di kayu salib—karya yang tidak perlu diulang Dia “duduk” sebagai tanda bahwa pekerjaannya tuntas. Tidak ada lagi korban yang harus dipersembahkan, tidak ada lagi usaha manusia yang harus menebus dirinya sendiri. Salib telah menyelesaikan semuanya, dan posisi duduk-Nya menjadi deklarasi bahwa keselamatan bukan lagi sesuatu yang sedang dikerjakan, tetapi sudah nyata dan diberikan bagi semua yang percaya. Dari posisi itulah Dia menjadi Pembela bagi manusia, mengerti kelemahan kita, dan menjadi Pengantara antara Allah dan manusia.

Arti lainnya adalah kehadiran Yesus yang aktif dalam hidup orang percaya. Sebelah kanan Bapa bukan tempat yang jauh, tetapi posisi yang memungkinkan Dia bekerja di hati, gereja, dan dunia melalui Roh Kudus. Ia tetap memimpin, meneguhkan, dan menyertai umat-Nya, bahkan saat dunia tampak kacau dan tidak pasti. Kuasa yang sama yang membangkitkan Dia kini bekerja di dalam orang percaya, memungkinkan mereka hidup dalam harapan, keberanian, dan kasih yang tidak berasal dari diri sendiri.

Yesus di sebelah kanan Bapa juga menunjuk pada masa depan. Dari tempat itu Ia akan datang kembali untuk menghakimi dan memulihkan seluruh ciptaan, menegakkan keadilan yang sempurna, dan membawa dunia pada kepenuhan rencana Allah. Jadi, ini bukan sekadar pernyataan teologis, tetapi janji bahwa sejarah tidak berjalan tanpa arah dan bahwa akhir dari segala sesuatu berada di tangan Pribadi yang telah mengalahkan kematian.

Karena itu, ketika orang Kristen berkata bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Bapa, mereka sedang mengakui bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa, Juru Selamat yang sudah menyelesaikan penebusan, Pengantara yang tidak pernah berhenti membela manusia, Raja yang memerintah dalam kasih, dan Pribadi yang kelak akan datang kembali untuk menghadirkan langit dan bumi yang baru. Ini adalah pengakuan iman yang mengubah cara kita melihat diri, kehidupan, dan masa depan. Sebab Sang Raja yang duduk di takhta itu adalah Raja yang mengasihi kita.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *