Apakah Alkitab Bertentangan dengan Sains tentang Penciptaan?

Pertanyaan mengenai apakah Alkitab bertentangan dengan sains tentang penciptaan telah menjadi perbincangan panjang selama berabad-abad. Ada yang menganggap keduanya berdiri sebagai dua kubu yang tidak bisa dipertemukan, sementara yang lain melihat bahwa Alkitab dan sains sesungguhnya berbicara dalam “bahasa” yang berbeda dan tidak perlu saling meniadakan. Untuk memahami hal ini dengan jernih, kita perlu melihat kembali tujuan Alkitab, bentuk penyampaiannya, dan cara sains bekerja.

Pertama-tama, Alkitab bukanlah buku sains. Alkitab tidak ditulis untuk menjelaskan proses fisik, biologis, atau kimiawi tentang bagaimana alam semesta terbentuk, melainkan untuk menyatakan siapa Allah, apa karakter-Nya, dan bagaimana hubungan-Nya dengan ciptaan. Ketika Kejadian 1–2 menceritakan penciptaan, fokus utamanya bukan pada mekanisme ilmiah, melainkan pada teologi bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu, bahwa Ia menciptakan dengan kuasa firman-Nya, dan bahwa manusia diciptakan menurut gambar-Nya. Karena itu, kisah penciptaan dalam Alkitab menggunakan bahasa yang sederhana, puitis, dan komunikatif bagi manusia dari segala zaman, bukan bahasa laboratorium atau rumus ilmiah. Ketika Alkitab menyebut “hari,” misalnya, pembaca kuno memahami konsep itu dalam kerangka teologis dan liturgis, sementara pembaca modern sering menafsirkannya secara kronologis dan ilmiah. Di sinilah perbedaan sudut pandang sering menimbulkan kesalahpahaman.

Sementara itu, sains bekerja dengan metode yang berbeda. Sains mengobservasi alam, mengembangkan hipotesis, melakukan eksperimen, dan menyusun teori berdasarkan bukti yang bisa diuji ulang. Sains tidak pernah menjawab pertanyaan “siapa” dan “mengapa,” melainkan “apa” dan “bagaimana.” Ketika sains berbicara tentang Big Bang, evolusi biologis, atau usia bumi yang sangat tua, ia sedang menguraikan proses alamiah berdasarkan fakta empiris. Namun sains tidak dapat menjelaskan mengapa ada hukum alam, mengapa sesuatu ada dari pada tidak ada, atau siapa yang menetapkan tatanan itu. Dengan kata lain, sains menjelaskan mekanisme, sedangkan Alkitab menjelaskan makna dan asal tujuan.

Jika demikian, apakah keduanya bertentangan? Pada tingkat tertentu, tidak. Keduanya berbicara pada ranah yang berbeda. Alkitab menyingkapkan realitas rohani dan teologis—bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, bahwa manusia diciptakan dengan martabat dan tujuan, dan bahwa ciptaan itu baik. Sains menjelaskan bagaimana kosmos berkembang, bagaimana kehidupan muncul dan berproses, serta bagaimana hukum-hukum alam bekerja. Ketika keduanya dipahami sesuai maksud masing-masing, tidak ada kontradiksi langsung. Banyak ilmuwan Kristen besar sepanjang sejarah—Newton, Kepler, Pascal, Faraday, hingga ilmuwan modern—tidak melihat adanya pertentangan antara iman dan penelitian ilmiah.

Namun, ketegangan muncul ketika manusia memaksakan Alkitab menjadi buku sains atau memaksakan sains untuk menjadi penjelasan kehidupan tanpa Tuhan. Jika pembacaan terhadap Kejadian dipersempit hanya sebagai laporan kronologis yang harus sesuai persis dengan temuan ilmiah modern, maka akan muncul benturan. Sebaliknya, jika sains ditarik menjadi ideologi ateistik yang menyatakan bahwa alam semesta adalah kebetulan tanpa tujuan, maka pertentangan itu pun buatan manusia, bukan berasal dari Alkitab atau sains itu sendiri.

Dalam banyak kasus, ketidakcocokan bukan terletak pada Alkitab dan sains, tetapi pada penafsiran terhadap keduanya. Kisah penciptaan dapat dipahami sebagai deklarasi teologis, bukan diagram mekanis. Sementara temuan ilmiah dapat dipahami sebagai deskripsi proses, bukan pengganti keberadaan Sang Pencipta. Dengan demikian, keduanya bisa saling melengkapi: sains menunjukkan keindahan, keteraturan, dan kompleksitas alam; Alkitab menunjukkan sumber, makna, dan tujuan di balik semuanya.

Akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Alkitab bertentangan dengan sains, tetapi apakah manusia bersedia membaca keduanya dalam konteks yang tepat. Ketika kita melihat sains sebagai cara memahami ciptaan dan Alkitab sebagai wahyu Pencipta, kita akan menemukan bahwa keduanya justru mengarah kepada kekaguman yang lebih besar terhadap hikmat Allah.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *