Misteri dan Sejarah Natal: Mengapa 25 Desember?

Sejarah Natal tidak dapat dilepaskan dari rangkaian panjang karya keselamatan Allah di tengah dunia. Perayaan yang hari ini identik dengan sukacita, terang, dan damai ini sesungguhnya berakar pada sebuah peristiwa sederhana di kota kecil Betlehem, ketika Yesus Kristus Sang Anak Allah—lahir ke dalam dunia dalam rupa seorang bayi. Namun untuk memahami bagaimana Natal menjadi sebuah perayaan yang dikenal di seluruh dunia, kita perlu melihat perjalanan sejarahnya dari awal mula kelahiran Kristus, perkembangan gereja mula-mula, hingga akhirnya ditetapkan sebagai hari raya besar yang dirayakan secara universal.

Peristiwa Natal berawal sekitar abad pertama Masehi ketika Maria, seorang gadis muda dari Nazaret, menerima kabar dari malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung oleh Roh Kudus dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan disebut Juru Selamat. Pada masa sensus yang diadakan pemerintahan Romawi, Yusuf dan Maria harus pergi ke Betlehem, kampung asal leluhur mereka, dan di kota itulah Yesus lahir di sebuah kandang sederhana. Injil Lukas mencatat bahwa para gembala yang sedang menjaga ternak di padang menerima kabar gembira dari para malaikat dan segera datang untuk melihat bayi itu. Injil Matius menambahkan kisah kedatangan orang-orang Majus dari Timur yang dipimpin oleh bintang. Kedua catatan ini menjadi fondasi teologis bagi sejarah Natal.

Namun, menarik bahwa gereja mula-mula tidak segera menetapkan tanggal khusus untuk merayakan kelahiran Kristus. Fokus utama mereka pada saat itu adalah kebangkitan-Nya, sehingga Paskah menjadi perayaan sentral. Baru pada abad ketiga dan keempat, ketika gereja semakin berkembang dan struktur ibadah mulai lebih tertata, muncul kebutuhan untuk menegaskan kembali pentingnya inkarnasi Kristus bahwa Allah menjadi manusia. Pada masa inilah muncul upaya untuk menentukan tanggal kelahiran Yesus.

Pada abad keempat, 25 Desember mulai digunakan secara resmi sebagai hari raya Natal oleh Gereja Barat. Ada beberapa alasan historis yang melatarbelakanginya. Salah satu yang paling terkenal adalah penetapan tanggal itu bertepatan dengan festival Romawi “Dies Natalis Solis Invicti” hari kelahiran dewa matahari yang tak terkalahkan. Dengan menetapkan Natal pada tanggal tersebut, gereja ingin mengalihkan fokus masyarakat dari penyembahan berhala kepada Kristus sebagai “Terang Dunia”. Namun alasan lainnya lebih teologis: beberapa teolog kuno memperhitungkan bahwa penyaliban Yesus terjadi pada 25 Maret, dan mereka meyakini bahwa para nabi sering “meninggal pada tanggal yang sama dengan saat mereka dikandung”. Dari perhitungan itu, kelahiran Kristus ditempatkan sembilan bulan setelahnya 25 Desember.

Dari sinilah Natal berkembang menjadi perayaan besar dalam kalender gerejawi. Pada abad pertengahan, tradisi-tradisi baru mulai muncul: drama liturgis, nyanyian-nyanyian Natal, dekorasi daun hijau sebagai simbol kehidupan, hingga kemudian berkembangnya tradisi pohon Natal dari kebudayaan Jerman. Seiring penyebaran Kekristenan ke seluruh dunia, perayaan Natal pun mengalami adaptasi budaya di berbagai daerah, namun tetap mempertahankan inti maknanya: merayakan kelahiran Sang Juru Selamat.

Hingga hari ini, Natal bukan hanya perayaan gerejawi, tetapi juga momen yang memiliki dampak sosial dan budaya yang luas. Banyak nilai yang diangkat kasih, pengorbanan, harapan, dan damai—menjadi pesan universal yang dapat diterima semua orang. Namun bagi umat Kristiani, Natal tetap terutama tentang karya Allah yang luar biasa: bahwa Ia mengasihi dunia ini sedemikian rupa sehingga Ia rela turun menjadi manusia untuk menyelamatkan umat-Nya. Inilah alasan mengapa Natal selalu membawa sukacita bukan sekadar karena tradisi dan perayaan luarannya, tetapi karena berita keselamatan yang menjadi inti sejarahnya.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *