Pertanyaan “Apakah keselamatan bisa hilang?” telah lama menjadi diskusi penting dalam teologi Kristen. Isu ini menyentuh inti iman: sifat anugerah Allah, peran iman, ketaatan, dan ketekunan orang percaya. Di satu sisi, Alkitab menegaskan kepastian keselamatan oleh anugerah melalui iman. Di sisi lain, terdapat peringatan serius tentang bahaya kemurtadan dan hidup yang menyimpang dari kebenaran. Tulisan ini mencoba membahas persoalan tersebut secara mengalir, seimbang, dan setia pada kesaksian Kitab Suci.
Keselamatan sebagai Anugerah Allah
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Rasul Paulus menulis bahwa manusia diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan karena pekerjaan baik, supaya tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. Keselamatan berakar pada karya Kristus di salib—kematian dan kebangkitan-Nya—bukan pada kemampuan manusia mempertahankan dirinya sendiri.
Yesus sendiri berkata bahwa tidak seorang pun dapat merebut domba-domba-Nya dari tangan-Nya. Pernyataan ini memberi penghiburan besar bahwa keselamatan orang percaya berada dalam kuasa Allah, bukan dalam kerapuhan manusia. Jika keselamatan sepenuhnya bergantung pada Allah, maka secara logis keselamatan itu aman di dalam Dia.
Pandangan: Keselamatan Tidak Bisa Hilang
Sebagian tradisi Kristen meyakini bahwa keselamatan sejati tidak mungkin hilang. Pandangan ini sering disebut sebagai ketekunan orang-orang kudus. Intinya, jika seseorang sungguh-sungguh telah dilahirkan kembali, maka Allah sendiri akan memeliharanya sampai akhir. Jika ada orang yang tampak “jatuh” dari iman, hal itu dipahami bukan sebagai kehilangan keselamatan, melainkan sebagai bukti bahwa ia sejak awal belum sungguh-sungguh diselamatkan.
Ayat-ayat yang sering dijadikan dasar antara lain janji bahwa Allah yang memulai pekerjaan baik akan menyelesaikannya, serta penegasan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus. Penekanan utama pandangan ini adalah kesetiaan Allah yang mutlak dan kuasa anugerah-Nya yang efektif.
Pandangan: Keselamatan Bisa Hilang
Di sisi lain, ada tradisi Kristen yang menekankan tanggung jawab manusia untuk tetap tinggal di dalam Kristus. Pandangan ini menyoroti banyaknya peringatan dalam Perjanjian Baru kepada orang percaya agar waspada, bertekun, dan tidak murtad. Surat Ibrani, misalnya, berbicara dengan sangat serius tentang bahaya meninggalkan iman setelah menerima kebenaran.
Yesus juga menggunakan gambaran pokok anggur dan ranting, dengan peringatan bahwa ranting yang tidak tinggal di dalam Dia akan dipotong dan dibuang. Dalam pandangan ini, keselamatan memang dimulai oleh anugerah, tetapi harus dijalani dalam iman yang hidup dan ketaatan yang nyata. Keselamatan dapat “hilang” bukan karena Allah tidak setia, melainkan karena manusia dengan sadar dan terus-menerus menolak anugerah tersebut.
Ketegangan Alkitabiah: Janji dan Peringatan
Alkitab memuat dua hal yang tampak tegang tetapi sebenarnya saling melengkapi: janji kepastian keselamatan dan peringatan akan bahaya kemurtadan. Janji diberikan untuk menghibur dan meneguhkan orang percaya, sedangkan peringatan diberikan untuk membangunkan dan menjaga mereka agar tidak lengah.
Dalam perspektif ini, peringatan bukan sekadar ancaman kosong, melainkan sarana yang Allah pakai untuk memelihara umat-Nya. Orang percaya yang sejati akan menanggapi peringatan tersebut dengan pertobatan dan ketekunan, bukan dengan sikap acuh tak acuh.
Buah Keselamatan: Iman yang Bertahan
Daripada terjebak pada perdebatan semata-mata apakah keselamatan “bisa” atau “tidak bisa” hilang, Alkitab lebih menekankan bagaimana hidup sebagai orang yang telah diselamatkan. Iman yang menyelamatkan bukan iman sesaat, melainkan iman yang bertumbuh, menghasilkan buah, dan bertahan sampai akhir.
Perbuatan baik tidak menyelamatkan, tetapi menjadi bukti dari keselamatan yang sejati. Ketika seseorang terus hidup dalam dosa tanpa pertobatan, hal itu patut dipertanyakan, bukan hanya status keselamatannya, tetapi juga keaslian imannya.
Kesimpulan
Apakah keselamatan bisa hilang? Jawaban Alkitab tidak sederhana dan tidak dangkal. Keselamatan adalah anugerah Allah yang kokoh dan dapat diandalkan. Pada saat yang sama, orang percaya dipanggil untuk bertekun dalam iman, tinggal di dalam Kristus, dan hidup sesuai dengan kebenaran.
Keyakinan Kristen yang sehat bukanlah ketakutan terus-menerus akan kehilangan keselamatan, tetapi juga bukan sikap sembrono yang mengabaikan kekudusan. Orang percaya hidup dalam keyakinan akan kasih karunia Allah, sambil dengan rendah hati menjaga iman dan ketaatan sebagai respons kasih kepada Dia. Dengan demikian, fokus kita bukan sekadar pada pertanyaan “bisakah keselamatan hilang?” melainkan pada panggilan untuk setia sampai akhir di dalam Kristus.