Siapa Sebenarnya Santa Claus? Sejarah yang Jarang Diceritakan

Tokoh Santa Claus yang kita kenal hari ini berjanggut putih, berbadan tambun, berpakaian merah, dan membawa hadiah tidak muncul begitu saja. Ia adalah hasil perjalanan sejarah yang panjang, lintas budaya, lintas zaman, dan lintas makna. Di balik sosok ceria yang akrab dengan perayaan Natal modern, tersembunyi akar sejarah yang serius, religius, dan sarat nilai kemanusiaan.

Asal-usul Santa Claus dapat ditelusuri kembali kepada seorang tokoh nyata dalam sejarah Gereja Kristen awal, yaitu Santo Nikolas dari Myra. Ia hidup sekitar abad ke-4 Masehi di wilayah Lycia, Asia Kecil (sekarang bagian dari Turki). Nikolas adalah seorang uskup yang dikenal karena kesalehan, kemurahan hati, dan kepeduliannya kepada kaum miskin, anak-anak, serta mereka yang tertindas. Banyak kisah tentang Santo Nikolas yang diwariskan secara turun-temurun, terutama cerita-cerita mengenai kebiasaannya memberi bantuan secara diam-diam.

Salah satu kisah paling terkenal menceritakan bagaimana Santo Nikolas menolong tiga gadis miskin yang terancam dijual sebagai budak karena ayah mereka tidak mampu menyediakan mas kawin. Nikolas diam-diam melemparkan kantong emas ke dalam rumah mereka pada malam hari, sehingga masa depan ketiga gadis itu terselamatkan. Dari sinilah muncul tradisi pemberian hadiah secara rahasia, yang kelak menjadi ciri khas Santa Claus.

Setelah wafatnya, Santo Nikolas dihormati sebagai orang kudus dan pelindung anak-anak, pelaut, serta kaum miskin. Hari peringatannya dirayakan setiap tanggal 6 Desember, dan di berbagai wilayah Eropa, khususnya Belanda dan Jerman, muncul tradisi memberi hadiah kepada anak-anak pada hari tersebut. Di Belanda, Santo Nikolas dikenal sebagai Sinterklaas, yang digambarkan sebagai seorang uskup tua berjubah panjang dan bertopi mitra.

Ketika para imigran Belanda bermigrasi ke Dunia Baru (Amerika) pada abad ke-17, mereka membawa tradisi Sinterklaas ke wilayah yang kini menjadi New York. Dari sinilah terjadi transformasi besar. Nama “Sinterklaas” perlahan berubah pengucapannya menjadi Santa Claus, dan figur religius ini mulai mengalami penyesuaian dengan budaya lokal.

Perubahan signifikan terjadi pada abad ke-19. Pada tahun 1823, sebuah puisi berjudul A Visit from St. Nicholas (sering dikenal dengan kalimat pembuka ’Twas the Night Before Christmas) diterbitkan. Puisi ini menggambarkan Santa Claus bukan lagi sebagai uskup, melainkan sebagai peri kecil yang ceria, datang dengan kereta luncur yang ditarik oleh delapan rusa, masuk melalui cerobong asap, dan membagikan hadiah pada malam Natal. Gambaran inilah yang mulai memindahkan fokus Santa Claus dari tanggal 6 Desember ke malam 24 Desember.

Selanjutnya, ilustrator Amerika Thomas Nast pada pertengahan abad ke-19 memperkuat visual Santa Claus: bertubuh besar, berjanggut putih, ramah, dan tinggal di Kutub Utara. Nast juga memperkenalkan konsep Santa yang memiliki daftar anak nakal dan baik, serta bengkel mainan dengan para peri pembantu.

Bentuk Santa Claus yang paling dikenal dunia saat ini semakin dikukuhkan pada abad ke-20, terutama melalui ilustrasi iklan perusahaan minuman Coca-Cola pada tahun 1930-an. Santa digambarkan mengenakan pakaian merah cerah dengan lis putih, wajah hangat, dan senyum bersahabat. Walaupun sering dianggap sebagai “ciptaan Coca-Cola”, sebenarnya perusahaan ini hanya mempopulerkan bentuk yang sudah berkembang sebelumnya.

Seiring waktu, Santa Claus mengalami pergeseran makna. Dari seorang uskup kudus yang meneladankan kasih Kristiani, ia berubah menjadi simbol universal kegembiraan, kedermawanan, dan semangat memberi. Di satu sisi, Santa Claus memperkaya budaya Natal dengan imajinasi dan sukacita, terutama bagi anak-anak. Namun di sisi lain, ia juga kerap dikritik karena dianggap menggeser makna rohani Natal ke arah konsumtif dan komersial.

Meski demikian, jika ditelusuri hingga ke akarnya, Santa Claus sejatinya adalah pengingat akan nilai yang sangat Kristen: memberi tanpa pamrih, mengasihi yang lemah, dan menghadirkan harapan bagi sesama. Ia bukan tandingan bagi makna Natal yang sejati, melainkan bayangan budaya dari kasih yang seharusnya lahir dari peristiwa Natal itu sendiri.

Dengan memahami sejarah Santa Claus secara utuh, kita diajak untuk tidak sekadar melihatnya sebagai tokoh dongeng atau ikon belanja akhir tahun, tetapi sebagai simbol yang meskipun telah berubah berasal dari teladan seorang yang hidup untuk melayani dan mengasihi. Pada akhirnya, nilai terdalam Santa Claus bukan pada hadiah yang dibawanya, melainkan pada semangat memberi yang lahir dari hati yang penuh kasih.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *