Apa Agama Yesus?

Pertanyaan “Apa agama Yesus?” sering terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam dan kerap disalahpahami. Banyak orang secara spontan menjawab, “Yesus adalah Kristen.” Namun jawaban itu, jika ditelusuri secara historis, teologis, dan Alkitabiah, tidak sepenuhnya tepat. Untuk memahami siapa Yesus dan bagaimana konteks iman-Nya, kita perlu kembali ke dunia tempat Ia hidup, bukan dunia setelah berabad-abad perkembangan agama.

Yesus lahir, hidup, dan mati sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan dari keluarga Yahudi, disunat pada hari kedelapan sesuai Taurat Musa, dibesarkan dalam tradisi Yahudi, dan hidup di tengah masyarakat Yahudi abad pertama. Injil mencatat bahwa Yesus rutin pergi ke sinagoge pada hari Sabat, membaca Kitab Suci Ibrani, merayakan hari-hari raya Yahudi seperti Paskah, dan menaati hukum-hukum Taurat. Dalam Matius 5:17, Yesus sendiri berkata bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Semua ini menunjukkan dengan jelas bahwa secara agama dan praktik hidup, Yesus adalah seorang Yahudi.

Namun, di sinilah letak keunikannya. Yesus bukan sekadar seorang Yahudi biasa atau rabi tradisional. Ia mengajarkan sesuatu yang melampaui batas-batas pemahaman agama formal pada zamannya. Ia berbicara tentang Allah sebagai Bapa dengan kedekatan yang belum pernah diajarkan sebelumnya. Ia mengkritik keras kemunafikan pemimpin agama, bukan Taurat itu sendiri, tetapi cara Taurat dipakai untuk menindas manusia. Yesus menegaskan bahwa hukum Allah harus membawa kehidupan, belas kasih, dan pemulihan, bukan sekadar ketaatan lahiriah.

Yesus juga tidak pernah mendirikan agama baru selama hidup-Nya. Ia tidak berkata, “Aku datang membawa agama baru,” melainkan, “Aku datang membawa Kerajaan Allah.” Fokus pengajaran-Nya bukan pada sistem ritual atau institusi keagamaan, tetapi pada pertobatan, iman, kasih, dan hubungan yang benar dengan Allah. Ia mengundang orang untuk mengikuti-Nya, bukan untuk masuk ke sebuah agama formal dengan nama tertentu.

Istilah “Kristen” sendiri baru muncul setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus. Dalam Kisah Para Rasul dicatat bahwa murid-murid Yesus pertama kali disebut “Kristen” di Antiokhia, bertahun-tahun setelah Yesus tidak lagi secara fisik bersama mereka. Kekristenan lahir sebagai sebuah gerakan iman yang berakar pada Yudaisme, namun berkembang menjadi identitas tersendiri karena pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan. Jadi, Yesus bukan Kristen; justru Kekristenan ada karena Yesus.

Di sisi lain, Yesus juga tidak bisa disempitkan hanya sebagai bagian dari Yudaisme biasa. Ia mengklaim otoritas ilahi, mengampuni dosa, dan menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia yang memiliki kuasa dari Allah. Klaim-klaim ini membuat banyak pemimpin Yahudi menolak-Nya, karena bagi mereka, Yesus melampaui batas ajaran yang dapat diterima. Inilah sebab utama konflik antara Yesus dan otoritas agama pada zamannya.

Maka, ketika ditanya “Apa agama Yesus?”, jawaban paling jujur adalah: Yesus hidup sebagai seorang Yahudi, tetapi Ia tidak dapat dikurung oleh label agama apa pun. Ia adalah pusat iman Kristen, bukan penganutnya. Ia adalah Mesias yang dijanjikan dalam Kitab Suci Ibrani, namun juga Juru Selamat bagi seluruh manusia, melampaui batas etnis, budaya, dan agama.

Pertanyaan ini seharusnya tidak berhenti pada identitas agama Yesus, tetapi berlanjut pada pertanyaan yang lebih penting: Siapakah Yesus bagi kita hari ini? Apakah Ia hanya tokoh sejarah, pendiri agama, atau Tuhan yang hidup dan mengundang manusia untuk mengenal Allah secara pribadi? Di situlah inti dari iman Kristen, bukan pada label agama Yesus, tetapi pada makna kehadiran-Nya bagi dunia.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *