Pertanyaan “Benarkah Yesus punya Tuhan?” sering memantik diskusi serius, bahkan kontroversial, terutama dalam dialog antariman dan juga di kalangan Kristen sendiri. Sebagian orang menganggap pertanyaan ini menggoyahkan iman Kristen, sementara yang lain justru melihatnya sebagai pintu untuk memahami siapa Yesus secara lebih utuh menurut Alkitab. Untuk menjawabnya, kita perlu jujur pada teks Kitab Suci, konteks sejarah, dan ajaran inti Kekristenan tanpa prasangka dan tanpa ketakutan.
Yesus Sendiri Mengakui Punya Tuhan
Jika kita membaca Injil dengan terbuka, ada banyak ayat yang secara eksplisit menunjukkan bahwa Yesus berdoa, menyembah, dan bersandar kepada Allah sebagai Tuhan-Nya.
Yesus berdoa di Getsemani, “Bapa-Ku, jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Doa ini menunjukkan relasi yang jelas: Yesus berbicara kepada Pribadi lain yang Ia sebut Bapa. Bahkan di kayu salib, Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seruan ini bukan simbol kosong, melainkan kutipan Mazmur 22 yang menunjukkan ketergantungan total kepada Allah.
Setelah kebangkitan pun, Yesus berkata kepada Maria Magdalena, “Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Kalimat ini sangat tegas: Yesus menyebut Allah sebagai “Allah-Ku”. Secara Alkitabiah, tidak bisa disangkal bahwa Yesus memang memiliki Tuhan.
Lalu Mengapa Kristen Mengakui Yesus sebagai Tuhan?
Di sinilah banyak orang tersandung. Jika Yesus punya Tuhan, mengapa orang Kristen menyebut Yesus sebagai Tuhan? Apakah ini kontradiksi? Jawabannya terletak pada ajaran inti Kekristenan tentang inkarnasi bahwa Firman Allah menjadi manusia. Menurut Injil Yohanes, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Firman itu telah menjadi manusia.”
Artinya, dalam iman Kristen, Yesus bukan sekadar manusia biasa, tetapi Allah yang sungguh-sungguh menjadi manusia. Ketika Ia hidup sebagai manusia, Yesus tidak berpura-pura menjadi manusia. Ia benar-benar hidup dengan segala keterbatasan manusia: lapar, letih, menderita, dan bergantung kepada Allah.
Sebagai manusia sejati, Yesus hidup dalam ketaatan penuh kepada Allah. Maka wajar dan justru konsisten jika Ia berdoa, menyembah, dan menyebut Allah sebagai Tuhan-Nya.
Dua Natur: Kunci Memahami Masalah Ini
Sejak abad-abad awal, gereja merumuskan bahwa Yesus memiliki dua natur: sungguh Allah dan sungguh manusia. Ini bukan upaya mengakali logika, melainkan kesimpulan dari keseluruhan kesaksian Alkitab.
Sebagai Allah, Yesus memiliki kuasa mengampuni dosa, menerima penyembahan, dan disebut “Tuhan” oleh para murid-Nya. Namun sebagai manusia, Ia hidup taat kepada Allah, belajar, menderita, dan bahkan mati.
Ketika Yesus berkata bahwa Ia punya Tuhan, Ia berbicara dari posisi-Nya sebagai manusia. Ketika Alkitab menyebut Yesus sebagai Tuhan, itu merujuk pada identitas-Nya yang ilahi.
Dua hal ini tidak saling meniadakan, melainkan berjalan bersamaan.
Bagaimana Gereja Perdana Memahaminya?
Menariknya, pertanyaan tentang siapa Yesus ini bukan hal baru. Gereja mula-mula sudah bergumul dengan isu yang sama. Konsili-konsili gereja awal tidak menciptakan keilahian Yesus, tetapi merumuskan apa yang sudah dipercaya berdasarkan Kitab Suci dan pengalaman iman umat.
Bagi orang Kristen mula-mula, Yesus yang berdoa kepada Allah bukan bukti bahwa Ia bukan ilahi, melainkan bukti bahwa Allah sungguh masuk ke dalam sejarah manusia, merendahkan diri-Nya, dan hidup di tengah manusia.
Jadi, Benarkah Yesus Punya Tuhan?
Jawabannya: ya, benar Yesus memiliki Tuhan. Alkitab menyatakannya dengan jelas. Namun dalam iman Kristen, hal itu tidak meniadakan keilahian Yesus. Justru di situlah letak keunikan Kekristenan: Allah tidak jauh dan tak tersentuh, tetapi rela menjadi manusia, taat, menderita, dan berseru kepada Allah seperti manusia lainnya.
Pertanyaan ini seharusnya tidak membuat orang Kristen defensif, tetapi justru mendorong pemahaman iman yang lebih dalam. Yesus yang punya Tuhan adalah Yesus yang sungguh memahami manusia, dan karena itulah, menurut iman Kristen, Ia layak dipercaya sebagai Juruselamat.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Yesus bukan hanya soal logika, tetapi juga soal iman: apakah kita melihat-Nya hanya sebagai tokoh sejarah, atau sebagai Firman yang hidup dan hadir di tengah manusia.