Pertanyaan “Apakah Yesus menciptakan segalanya?” sering muncul dalam diskusi teologi Kristen, terutama ketika membahas siapa sebenarnya Yesus menurut Alkitab. Bagi sebagian orang, Yesus hanya dipahami sebagai guru moral, nabi, atau tokoh rohani. Namun, bagi iman Kristen, Yesus jauh lebih dari itu. Ia tidak hanya hadir dalam sejarah sebagai manusia, tetapi juga terlibat aktif sejak awal penciptaan.
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat kesaksian Alkitab secara utuh, bukan hanya dari satu ayat atau satu kitab saja.
Alkitab menyatakan bahwa penciptaan alam semesta adalah karya Allah. Kejadian 1:1 dengan jelas mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Namun Perjanjian Baru memperluas pemahaman ini dengan menyatakan bahwa karya penciptaan Allah dilakukan melalui Firman-Nya, yang kemudian dinyatakan sebagai Yesus Kristus.
Injil Yohanes membuka dengan pernyataan yang sangat kuat dan teologis: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:1–3). Dalam ayat ini, Yohanes menegaskan dua hal penting: Firman itu adalah Allah, dan Firman itu adalah pencipta segala sesuatu. Beberapa ayat kemudian, Yohanes menegaskan bahwa Firman itu telah menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus (Yohanes 1:14).
Kesaksian ini tidak berdiri sendiri. Rasul Paulus dalam Kolose 1:15–16 menulis bahwa Yesus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan; karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.” Paulus menekankan bahwa segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Artinya, Yesus bukan bagian dari ciptaan, melainkan sumber dan tujuan dari seluruh ciptaan itu sendiri.
Ibrani 1:2 juga memperkuat hal ini dengan menyatakan bahwa Allah telah berbicara melalui Anak-Nya, “yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada, dan oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” Penulis Ibrani bahkan menambahkan bahwa Anak itu menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa. Ini berarti peran Yesus tidak berhenti pada penciptaan di masa lalu, tetapi juga pada pemeliharaan alam semesta hingga sekarang.
Namun, muncul pertanyaan lanjutan: jika Yesus adalah manusia yang lahir di Betlehem, bagaimana mungkin Ia menciptakan dunia? Di sinilah iman Kristen memahami Yesus sebagai pribadi dengan dua natur: sungguh Allah dan sungguh manusia. Sebagai manusia, Yesus lahir dalam waktu dan sejarah. Tetapi sebagai Firman Allah, Ia sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. Keberadaan-Nya tidak dimulai di palungan, melainkan kekal bersama Allah sejak semula.
Pemahaman ini juga selaras dengan pernyataan Yesus sendiri. Dalam Yohanes 8:58, Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Pernyataan ini bukan sekadar klaim umur yang panjang, tetapi klaim keberadaan ilahi, yang membuat para pendengar-Nya pada waktu itu mengerti bahwa Ia sedang menyamakan diri-Nya dengan Allah.
Dengan demikian, menurut iman Kristen dan kesaksian Alkitab, Yesus memang terlibat secara aktif dalam penciptaan segala sesuatu. Ia bukan makhluk ciptaan pertama, bukan malaikat tertinggi, dan bukan sekadar utusan. Ia adalah Firman Allah yang kekal, melalui siapa Allah menciptakan, menopang, dan menebus dunia.
Implikasi dari pengajaran ini sangat besar. Jika Yesus adalah Pencipta, maka Ia memiliki otoritas penuh atas hidup manusia dan seluruh ciptaan. Iman kepada Yesus bukan hanya soal mengikuti ajaran moral-Nya, tetapi juga pengakuan bahwa hidup manusia berasal dari Dia dan kembali kepada Dia. Pencipta yang sama itu juga yang rela masuk ke dalam ciptaan-Nya, menderita, dan mati demi menebus manusia.
Jadi, ketika ditanya “Apakah Yesus menciptakan segalanya?”, jawaban iman Kristen adalah: ya, segala sesuatu diciptakan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Ia adalah awal dari segala sesuatu, pusat dari sejarah, dan tujuan akhir dari ciptaan. Dalam Dia, penciptaan menemukan makna, dan dalam Dia pula manusia menemukan keselamatan.