Terbongkar! Mengapa Al-Qur’an Dan Alkitab Punya Banyak Kesamaan?

Pertanyaan tentang kemiripan antara Al-Qur’an dan Alkitab sering muncul, terutama ketika orang menemukan tokoh-tokoh yang sama seperti Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Yesus, atau kisah-kisah yang terasa serupa. Tidak sedikit yang kemudian menyimpulkan secara sederhana: “pasti salah satu mencontek yang lain.” Namun, apakah sesederhana itu?

Untuk memahami persoalan ini secara adil, kita perlu melihatnya dari sudut sejarah, teologi, dan konteks budaya.

Pertama, secara kronologis, Alkitab jauh lebih tua. Perjanjian Lama ditulis berabad-abad sebelum Masehi, sementara Perjanjian Baru selesai pada abad pertama. Al-Qur’an sendiri baru diturunkan pada abad ke-7 Masehi. Artinya, dari sisi waktu, kisah-kisah Alkitab memang sudah beredar lama sebelum Al-Qur’an muncul.

Namun, kesimpulan “mencontek” tidak otomatis menjadi jawaban yang tepat. Baik Islam maupun Kristen sama-sama mengklaim bahwa sumber wahyu mereka berasal dari Tuhan yang sama, yaitu Allah Sang Pencipta. Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an dipahami sebagai kelanjutan sekaligus penyempurnaan wahyu-wahyu sebelumnya yang telah diberikan kepada para nabi, termasuk Musa dan Isa (Yesus). Karena berasal dari sumber ilahi yang sama, wajar bila terdapat kesinambungan cerita dan pesan moral.

Di sisi lain, kekristenan melihat Alkitab sebagai rangkaian wahyu Allah yang mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Dari sudut pandang ini, kemiripan dengan Al-Qur’an dipahami bukan sebagai salinan, melainkan sebagai penggunaan kembali tradisi dan kisah-kisah yang sudah hidup di tengah komunitas Yahudi dan Kristen Timur Tengah.

Kedua, kita tidak bisa mengabaikan konteks sosial Arab abad ke-7. Saat Islam lahir, di Jazirah Arab sudah ada komunitas Yahudi dan Kristen. Kisah-kisah para nabi, cerita penciptaan, air bah, dan figur Mesias telah beredar secara lisan maupun tertulis. Lingkungan inilah yang menjadi latar tempat Al-Qur’an diturunkan. Maka, secara historis, sangat masuk akal jika narasi Al-Qur’an memiliki titik temu dengan tradisi Alkitab.

Namun yang menarik, Al-Qur’an tidak sekadar mengulang cerita-cerita tersebut. Banyak kisah disajikan dengan versi yang berbeda, penekanan yang berbeda, bahkan pesan teologis yang berbeda. Contohnya, sosok Yesus: dalam Alkitab, Yesus dipahami sebagai Anak Allah dan Juruselamat dunia, sementara dalam Al-Qur’an, Isa dipandang sebagai nabi besar, lahir dari perawan Maria, tetapi bukan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar menyalin, melainkan menafsir ulang sesuai dengan kerangka teologi Islam.

Ketiga, gaya penulisan dan tujuan kedua kitab ini juga berbeda. Alkitab adalah kumpulan banyak kitab yang ditulis oleh berbagai penulis selama lebih dari seribu tahun, dengan ragam genre: sejarah, puisi, nubuat, surat, dan Injil. Al-Qur’an, sebaliknya, diyakini umat Islam sebagai firman Tuhan yang diturunkan secara langsung kepada Nabi Muhammad selama sekitar 23 tahun, dengan gaya bahasa khas yang bersifat deklaratif, puitis, dan argumentatif.

Selain itu, fokus utama Al-Qur’an bukanlah membangun kronologi sejarah secara rinci, melainkan menekankan tauhid, ketaatan kepada Allah, dan peringatan moral. Karena itu, kisah-kisah yang mirip dengan Alkitab sering kali disampaikan secara ringkas, fragmentaris, dan langsung diarahkan pada pesan spiritual.

Lalu, apakah ini berarti tidak ada unsur pengaruh sama sekali? Dari sudut pandang akademik, banyak sarjana melihat adanya interaksi tradisi: tradisi Yahudi-Kristen memengaruhi narasi Al-Qur’an, sebagaimana Al-Qur’an kemudian membentuk tradisi Islam yang unik. Ini adalah hal yang wajar dalam sejarah agama-agama, di mana gagasan dan cerita berkembang dalam ruang budaya yang saling bersinggungan.

Namun, bagi orang beriman, pertanyaan ini kembali pada keyakinan dasar. Umat Islam melihat kemiripan sebagai bukti kesinambungan wahyu. Umat Kristen melihat perbedaan mendasar sebagai bukti bahwa pesan Injil tidak sama dengan teologi Al-Qur’an. Keduanya membaca realitas yang sama, tetapi dengan kacamata iman yang berbeda.

Pada akhirnya, menyederhanakan persoalan ini menjadi sekadar “siapa mencontek siapa” justru menghilangkan kedalaman sejarah dan makna spiritual di balik kedua kitab suci tersebut. Kemiripan Al-Qur’an dan Alkitab lebih tepat dipahami sebagai hasil dari akar tradisi yang sama, lingkungan sejarah yang beririsan, dan klaim teologis masing-masing agama tentang Allah dan wahyu-Nya.

Daripada terjebak pada tuduhan saling menyalin, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: nilai apa yang dapat dipetik dari kedua kitab ini tentang keadilan, kasih, pertobatan, dan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan? Sebab pada akhirnya, tujuan utama kitab suci bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bermoral.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *