Ada pertanyaan yang sering muncul di hati banyak orang: mengapa orang yang berusaha hidup benar justru mengalami kegagalan, penderitaan, dan kehancuran, sementara mereka yang curang, jahat, atau tidak peduli pada Tuhan tampak hidup nyaman dan berhasil? Pertanyaan ini bukan hal baru. Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah bergumul dengan persoalan yang sama. Alkitab pun tidak menutupinya. Bahkan orang-orang benar dalam Kitab Suci pernah menangis karena merasa keadilan Tuhan tidak terlihat. Pemazmur berkata, “Aku cemburu kepada pembual-pembual, ketika aku melihat kemujuran orang-orang fasik.”
Ia melihat orang jahat hidup sehat, kaya, dan seolah bebas dari kesusahan. Sementara dirinya sendiri yang takut akan Tuhan justru mengalami tekanan batin dan penderitaan setiap hari. Ayub, seorang yang disebut Alkitab sebagai saleh dan jujur, kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya dalam waktu singkat. Secara manusiawi, hidupnya benar-benar hancur. Ia tidak berbuat jahat, namun bencana datang bertubi-tubi. Ayub pun bertanya kepada Tuhan, bergumul, bahkan sempat putus asa. Pengkhotbah juga berkata bahwa ada orang benar yang bernasib seperti orang fasik, dan orang fasik yang bernasib seperti orang benar. Seolah-olah dunia berjalan tanpa keadilan.
Lalu, di mana keadilan Tuhan?
Pertama, kita perlu memahami bahwa “hidup baik” tidak otomatis berarti “hidup tanpa masalah”. Banyak orang mengira bahwa jika seseorang tulus, jujur, rajin berdoa, dan tidak menyakiti orang lain, maka hidupnya pasti mulus. Padahal Alkitab tidak pernah menjanjikan kehidupan tanpa penderitaan. Yesus sendiri berkata bahwa di dunia ini kita akan mengalami kesesakan. Menjadi orang baik bukan jaminan bebas dari masalah, tetapi menjadi orang baik memberi makna di tengah masalah. Kedua, kehancuran hidup sering kali bukan hukuman Tuhan, melainkan akibat dunia yang sudah rusak. Kita hidup di dunia yang dipenuhi dosa, ketidakadilan, keserakahan, dan kebebasan manusia yang sering disalahgunakan. Orang baik bisa menjadi korban sistem yang tidak adil, korban pilihan orang lain, atau bahkan korban keputusan masa lalu yang keliru.
Tidak semua penderitaan berasal langsung dari Tuhan. Banyak penderitaan terjadi karena manusia saling melukai. Ketiga, Tuhan melihat lebih jauh daripada yang bisa kita lihat. Kita menilai hidup dari potongan pendek waktu: sekarang, tahun ini, atau beberapa tahun ke depan. Tetapi Tuhan melihat keseluruhan perjalanan hidup, bahkan sampai kekekalan. Sering kali apa yang tampak sebagai kehancuran justru sedang membentuk kedewasaan rohani, kerendahan hati, dan ketergantungan kepada Tuhan. Seperti emas yang dimurnikan lewat api, iman pun sering dimurnikan melalui penderitaan. Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, dipenjara karena fitnah, dan bertahun-tahun hidup tanpa kepastian. Namun akhirnya Tuhan mengangkat dia menjadi pemimpin di Mesir, dan melalui penderitaannya banyak orang diselamatkan dari kelaparan. Pada awalnya hidup Yusuf tampak hancur, tetapi Tuhan sedang menyiapkan rencana yang lebih besar.
Keempat, keadilan Tuhan tidak selalu terjadi sekarang. Ini bagian yang paling sulit diterima. Kita ingin keadilan instan. Kita ingin orang jahat langsung menerima balasan dan orang baik langsung diberkati. Namun Alkitab menunjukkan bahwa penghakiman Tuhan yang sempurna sering kali terjadi pada waktu-Nya sendiri. Yesus mengajarkan bahwa akan ada hari penghakiman, ketika setiap perbuatan manusia akan dinilai dengan adil. Tidak ada satu pun air mata orang benar yang sia-sia, dan tidak ada satu pun kejahatan yang luput dari perhatian Tuhan.
Jika keadilan tidak sepenuhnya kita lihat hari ini, bukan berarti keadilan itu tidak ada. Kelima, Yesus sendiri adalah contoh paling nyata. Tidak ada manusia yang lebih baik, lebih suci, dan lebih penuh kasih daripada Yesus. Namun Ia dikhianati, disiksa, dan disalibkan. Dari sudut pandang manusia, hidup-Nya berakhir tragis. Tetapi justru melalui penderitaan-Nya, keselamatan datang bagi dunia.
Salib menunjukkan bahwa Tuhan tidak jauh dari penderitaan manusia. Ia masuk ke dalam penderitaan itu sendiri. Maka ketika orang baik mengalami kehancuran hidup, Tuhan tidak berdiri jauh sambil menghakimi. Ia hadir, menangis bersama, dan memberi kekuatan untuk melangkah satu hari demi satu hari. Keadilan Tuhan bukan hanya soal memberi hukuman atau berkat, tetapi tentang pemulihan. Tuhan bekerja bukan sekadar memperbaiki keadaan luar, tetapi menyembuhkan hati yang remuk, menguatkan iman yang hampir padam, dan memberi pengharapan baru ketika segalanya terasa gelap. Mungkin hari ini hidup terasa runtuh. Mungkin usaha gagal, keluarga berantakan, kesehatan menurun, atau doa-doa terasa tidak dijawab. Namun itu tidak berarti Tuhan telah meninggalkan.
Sering kali Tuhan tidak langsung mengubah situasi, tetapi Ia mengubah kita di dalam situasi itu. Orang baik yang hidupnya hancur bukan bukti bahwa Tuhan tidak adil. Justru sering kali itu adalah proses yang tidak kita pahami sekarang, tetapi suatu hari nanti akan kita mengerti. Seperti janji Tuhan, segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Pada akhirnya, pengharapan orang percaya bukan terletak pada keadaan hari ini, tetapi pada kesetiaan Tuhan yang tidak pernah gagal. Keadilan Tuhan mungkin tidak selalu tampak cepat, tetapi pasti nyata. Dan kasih-Nya tetap menopang, bahkan ketika hidup terasa hancur.