Pertanyaan “Dapatkah Allah menciptakan sesuatu yang begitu besar sampai Ia sendiri tidak bisa mengangkatnya?” sering terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh inti pemahaman tentang siapa Allah itu menurut Alkitab. Ini bukan sekadar teka-teki logika, melainkan pertanyaan tentang hakikat kemahakuasaan Tuhan.
Sekilas, pertanyaan ini tampak menjebak. Jika Allah bisa menciptakan benda itu, berarti ada sesuatu yang tidak bisa Ia lakukan: mengangkatnya. Tetapi jika Allah tidak bisa menciptakannya, berarti Ia juga tidak mahakuasa. Seolah-olah, apa pun jawabannya, Allah tetap terlihat terbatas. Namun Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak pernah terjebak dalam kontradiksi seperti ini.
Dalam Kitab Suci, Allah digambarkan sebagai Mahakuasa. Yeremia 32:17 berkata, “Ah Tuhan ALLAH! Sesungguhnya Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang teracung; tidak ada sesuatu apa pun yang mustahil bagi-Mu.” Ayat ini menegaskan bahwa kuasa Allah tidak dibatasi oleh apa pun di luar diri-Nya.
Yesus sendiri berkata dalam Matius 19:26, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Namun penting untuk dipahami: “segala sesuatu” di sini tidak berarti Allah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sifat-Nya sendiri atau dengan logika yang benar. Alkitab juga mengatakan bahwa Allah tidak dapat berdusta (Titus 1:2) dan tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri (2 Timotius 2:13). Apakah itu berarti Allah tidak mahakuasa? Tidak. Itu berarti Allah selalu konsisten dengan natur-Nya yang sempurna.
Di sinilah letak kunci jawabannya. Pertanyaan tentang “batu yang tidak bisa diangkat oleh Allah” sebenarnya adalah contoh kontradiksi logis. Itu seperti bertanya, “Bisakah Allah membuat lingkaran yang berbentuk persegi?” atau “Bisakah Allah menciptakan segitiga dengan empat sisi?” Masalahnya bukan pada kuasa Allah, tetapi pada definisi pertanyaannya sendiri. Benda yang “diciptakan oleh Yang Mahakuasa namun lebih kuat dari Yang Mahakuasa” adalah konsep yang saling meniadakan. Itu bukan sesuatu yang nyata, melainkan permainan kata.
Dengan kata lain, Allah tidak “gagal” menciptakan benda semacam itu, karena benda itu secara logis tidak mungkin ada. Kemahakuasaan Allah berarti Ia sanggup melakukan segala sesuatu yang mungkin secara logis dan sesuai dengan natur-Nya. Hal-hal yang saling bertentangan bukanlah “sesuatu” yang bisa dilakukan, melainkan kekacauan konsep.
Alkitab menegaskan bahwa kuasa Allah tidak terbatas. Mazmur 115:3 berkata, “Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya.” Tidak ada makhluk, benda, atau kekuatan yang dapat mengungguli-Nya. Jika Allah menciptakan sesuatu, maka ciptaan itu tetap berada di bawah otoritas-Nya. Kolose 1:16–17 menjelaskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia, dan di dalam Dia segala sesuatu ada. Artinya, seluruh ciptaan bergantung kepada Allah, bukan sebaliknya.
Karena itu, gagasan bahwa ada ciptaan yang bisa melampaui kuasa Penciptanya bertentangan langsung dengan kesaksian Alkitab. Allah bukan bagian dari alam semesta yang tunduk pada hukum-hukum di luar diri-Nya. Justru Dialah sumber segala hukum, termasuk hukum logika dan realitas.
Pertanyaan ini juga sering muncul karena manusia mencoba mengukur Allah dengan kategori manusia. Kita terbiasa dengan keterbatasan: ada beban yang terlalu berat untuk kita angkat, ada tugas yang terlalu sulit untuk kita lakukan. Lalu pola pikir itu kita proyeksikan kepada Allah. Padahal Alkitab berkali-kali menegaskan bahwa jalan Tuhan tidak sama dengan jalan manusia, dan pikiran Tuhan tidak sama dengan pikiran kita.
Yesaya 55:8–9 berkata, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak bisa dipersempit oleh kategori logika dangkal atau teka-teki buatan manusia.
Jadi, menurut Alkitab, jawabannya bukan “ya” atau “tidak” dalam pengertian biasa. Allah tidak menciptakan sesuatu yang lebih besar dari kuasa-Nya, bukan karena Ia terbatas, tetapi karena hal itu secara hakikat mustahil. Itu bukan objek nyata, melainkan kontradiksi. Allah Mahakuasa, dan tidak ada ciptaan yang bisa mengalahkan atau melampaui Dia.
Pada akhirnya, pertanyaan ini mengajak kita untuk merenung lebih dalam: apakah kita sungguh memahami siapa Allah itu? Allah dalam Alkitab bukan sekadar makhluk superkuat. Ia adalah Pencipta langit dan bumi, sumber segala keberadaan, dan penguasa mutlak atas ciptaan. Kuasa-Nya tidak berdiri berdampingan dengan kuasa lain, seolah-olah bisa ditandingi. Kuasa-Nya adalah dasar dari segala kuasa.
Maka, daripada terjebak pada paradoks buatan manusia, Alkitab mengarahkan kita pada sikap yang lebih tepat: kagum, tunduk, dan percaya. Ayub, setelah bergumul dengan banyak pertanyaan besar tentang Tuhan, akhirnya berkata, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).
Itulah kesimpulan iman Alkitab: Allah Mahakuasa, tidak terbatas, dan tidak pernah dikalahkan oleh ciptaan-Nya sendiri. Pertanyaan tentang “batu yang tidak bisa diangkat Allah” bukan membuktikan kelemahan Tuhan, tetapi justru menunjukkan keterbatasan cara berpikir manusia ketika mencoba memahami Sang Pencipta dengan logika yang tidak utuh.