Penjelasan Pengakuan Iman Rasuli

Pengakuan Iman Rasuli adalah salah satu rumusan iman Kristen yang paling tua dan paling dikenal di seluruh dunia. Hampir semua gereja Kristen, baik Katolik, Protestan, maupun Ortodoks, mengenal dan menggunakan pengakuan iman ini sebagai ringkasan pokok kepercayaan orang percaya. Meskipun disebut “Rasuli”, pengakuan ini bukan ditulis langsung oleh kedua belas rasul, melainkan dirumuskan oleh gereja mula-mula berdasarkan ajaran para rasul, lalu berkembang secara bertahap hingga bentuknya yang sekarang.

Tujuan utama Pengakuan Iman Rasuli adalah untuk merangkum inti Injil dalam kalimat-kalimat sederhana, sehingga mudah dihafal, diajarkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pada masa gereja awal, pengakuan iman ini sering digunakan dalam baptisan sebagai pernyataan iman pribadi: seseorang menyatakan apa yang ia percaya sebelum menerima baptisan.

Pengakuan ini dimulai dengan kalimat, “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi.” Kalimat pembuka ini menegaskan bahwa iman Kristen berakar pada Allah yang esa, yang dikenal sebagai Bapa, dan yang memiliki kuasa penuh atas seluruh ciptaan. Allah bukan sekadar konsep abstrak, melainkan Pribadi yang mencipta, memelihara, dan mengasihi dunia. Sebutan “Bapa” menekankan relasi, bahwa Allah bukan jauh dan dingin, tetapi dekat dengan umat-Nya.

Selanjutnya pengakuan iman menyatakan kepercayaan kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, Tuhan kita. Di sini ditegaskan bahwa Yesus bukan hanya guru moral atau nabi, melainkan Anak Allah yang unik dan Tuhan atas hidup manusia. Pernyataan ini menjadi pusat iman Kristen, karena keselamatan diyakini datang melalui pribadi dan karya Yesus Kristus.

Pengakuan iman kemudian menjelaskan bahwa Yesus dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Bagian ini menegaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah sekaligus sungguh-sungguh manusia. Ia masuk ke dalam sejarah manusia melalui kelahiran yang nyata, namun asal-usul-Nya ilahi. Inkarnasi ini menunjukkan betapa besar kasih Allah, yang rela datang ke dunia untuk menebus manusia.

Setelah itu disebutkan bahwa Yesus menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan. Penyebutan Pontius Pilatus menegaskan bahwa peristiwa salib bukan mitos, melainkan kejadian sejarah. Salib menjadi pusat karya keselamatan, karena melalui penderitaan dan kematian-Nya, Yesus menanggung dosa manusia. Ia benar-benar mati dan dikuburkan, menunjukkan realitas pengorbanan-Nya.

Pengakuan iman juga menyatakan bahwa Yesus turun ke dalam kerajaan maut dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Kebangkitan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Tanpa kebangkitan, iman Kristen kehilangan maknanya. Namun karena Kristus bangkit, orang percaya memiliki pengharapan akan hidup yang baru dan kekal.

Kemudian dinyatakan bahwa Yesus naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa. Ini menggambarkan pemuliaan Kristus dan otoritas-Nya. Yesus yang bangkit kini memerintah bersama Bapa, dan dari sana Ia akan datang kembali untuk menghakimi orang hidup dan orang mati. Bagian ini mengingatkan bahwa sejarah manusia bergerak menuju penggenapan akhir, ketika keadilan Allah dinyatakan sepenuhnya.

Pengakuan iman lalu beralih kepada Roh Kudus. Roh Kudus adalah Pribadi ketiga dari Tritunggal yang bekerja di dalam hati manusia, menegur dosa, memberi iman, menghibur, dan menuntun orang percaya dalam kebenaran. Kehadiran Roh Kudus menegaskan bahwa Allah terus aktif bekerja di dunia hingga hari ini.

Selanjutnya diakui iman kepada gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan tubuh, dan hidup yang kekal. Gereja yang kudus dan am berarti umat Allah di seluruh dunia dan sepanjang zaman, bukan hanya satu denominasi tertentu. Persekutuan orang kudus menekankan bahwa orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kebersamaan, saling menguatkan sebagai satu tubuh Kristus.

Pengampunan dosa menjadi inti kabar baik Injil: manusia yang berdosa dapat dipulihkan hubungannya dengan Allah melalui Kristus. Kebangkitan tubuh menegaskan bahwa keselamatan bukan hanya soal jiwa, tetapi mencakup seluruh keberadaan manusia. Dan akhirnya, hidup yang kekal menunjukkan tujuan akhir iman Kristen, yaitu hidup bersama Allah untuk selama-lamanya.

Dengan demikian, Pengakuan Iman Rasuli bukan sekadar hafalan liturgis, melainkan ringkasan besar karya Allah dari penciptaan, penebusan, hingga penggenapan akhir. Pengakuan ini mengajarkan siapa Allah itu, siapa Yesus Kristus, bagaimana Roh Kudus bekerja, serta apa pengharapan orang percaya.

Bagi orang Kristen masa kini, Pengakuan Iman Rasuli berfungsi sebagai kompas iman. Di tengah banyaknya ajaran dan pandangan yang beragam, pengakuan ini membantu umat kembali pada dasar-dasar iman yang alkitabiah. Ia juga menjadi pengingat bahwa iman Kristen bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi warisan bersama gereja sepanjang sejarah.

Akhirnya, ketika seseorang mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, ia sebenarnya sedang menyatakan komitmen hidup: percaya kepada Allah Bapa, mengikuti Yesus Kristus, hidup dipimpin Roh Kudus, setia dalam persekutuan gereja, serta menantikan kebangkitan dan hidup kekal. Pengakuan iman ini mengajak setiap orang percaya bukan hanya untuk berkata “aku percaya”, tetapi juga untuk hidup sesuai dengan iman itu dalam keseharian.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *