Pertanyaan tentang keautentikan mukjizat di gereja masa kini semakin sering muncul. Di satu sisi, banyak kesaksian tentang kesembuhan, pelepasan, dan perubahan hidup yang dramatis. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang skeptis, melihat adanya manipulasi emosi, sugesti massal, bahkan dugaan penipuan. Maka pertanyaannya bukan sekadar “apakah mukjizat masih ada?”, tetapi lebih dalam: “apakah yang disebut mukjizat itu benar-benar berasal dari Allah?”
Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang melakukan mukjizat. Sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita melihat tangan Tuhan bekerja secara supranatural: Laut Teberau terbelah, manna turun dari langit, orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, bahkan orang mati dibangkitkan. Dalam pelayanan Yesus, mukjizat bukan sekadar pertunjukan kuasa, melainkan tanda Kerajaan Allah dan ungkapan kasih Allah kepada manusia yang menderita.
Yesus sendiri berkata bahwa tanda-tanda akan menyertai orang-orang yang percaya. Gereja mula-mula pun hidup dalam realitas mukjizat. Namun Alkitab juga memberi peringatan keras bahwa tidak semua tanda dan keajaiban berasal dari Allah. Yesus menubuatkan bahwa pada akhir zaman akan muncul nabi-nabi palsu dan mesias-mesias palsu yang mengadakan tanda-tanda besar untuk menyesatkan, jika mungkin, orang-orang pilihan. Rasul Paulus menegaskan bahwa pekerjaan ajaib juga bisa dipakai oleh kuasa kegelapan untuk menipu. Artinya, keberadaan mukjizat saja tidak otomatis menjadi bukti keilahian suatu pelayanan.
Karena itu, pertanyaan yang benar bukanlah “apakah ada mukjizat?”, melainkan “bagaimana membedakan mukjizat yang autentik dari yang palsu atau semu?”
Alkitab memberi beberapa prinsip penting. Pertama, mukjizat yang sejati selalu memuliakan Kristus, bukan meninggikan manusia. Jika pusat perhatian beralih dari Yesus kepada figur pendeta, penginjil, atau “orang yang dipakai Tuhan”, maka ada masalah serius. Roh Kudus tidak pernah bekerja untuk membangun kultus individu. Ia datang untuk memuliakan Kristus dan membawa orang kepada pertobatan sejati.
Kedua, mukjizat sejati sejalan dengan kebenaran firman Tuhan. Allah tidak mungkin menyangkal diri-Nya sendiri. Jika suatu pelayanan penuh “tanda ajaib” tetapi ajarannya menyimpang dari Injil, meremehkan salib Kristus, atau mengajarkan keselamatan melalui cara lain selain Yesus, maka tanda-tanda itu patut dipertanyakan. Firman Tuhan harus menjadi standar utama, bukan pengalaman atau emosi.
Ketiga, mukjizat autentik menghasilkan buah rohani. Alkitab berkata bahwa kita mengenal pohon dari buahnya. Buah Roh seperti kasih, kerendahan hati, pertobatan, kekudusan, dan kerinduan akan Tuhan akan tampak dalam kehidupan orang-orang yang sungguh disentuh Allah. Sebaliknya, jika yang muncul adalah kesombongan rohani, ketergantungan pada “acara mukjizat”, cinta uang, atau sensasi semata, maka itu pertanda bahwa sesuatu tidak sehat sedang terjadi.
Keempat, mukjizat sejati tidak bisa diproduksi sesuka hati. Dalam Alkitab, para rasul tidak menjadwalkan mukjizat seperti program rutin. Mereka taat kepada pimpinan Roh Kudus. Mukjizat terjadi sesuai kehendak Allah, bukan karena teknik tertentu, sugesti musik, atau tekanan massa. Saat mukjizat dijadikan komoditas, dijual melalui amplop persembahan, atau dipakai untuk memancing donasi, esensinya telah bergeser jauh dari maksud Tuhan.
Perlu juga dipahami bahwa tidak semua kesembuhan atau pengalaman luar biasa otomatis bersifat ilahi. Secara psikologis, sugesti, emosi kolektif, dan adrenalin dapat membuat seseorang merasa sembuh sementara. Dalam beberapa kasus, gejala memang mereda, tetapi penyakit dasarnya tetap ada. Karena itu, sikap bijak sangat diperlukan, termasuk verifikasi medis jika memungkinkan. Iman Kristen tidak anti terhadap akal sehat.
Namun di tengah segala kewaspadaan ini, kita juga tidak boleh jatuh ke ekstrem sebaliknya: menolak semua mukjizat. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kuasa Allah berhenti bekerja. Tuhan tetap berdaulat dan tetap sanggup menyembuhkan, memulihkan, dan melakukan perkara-perkara ajaib sampai hari ini. Banyak orang sungguh mengalami pertolongan Tuhan secara nyata, baik melalui doa, pelayanan gereja, maupun cara-cara sederhana yang sering tidak disorot kamera.
Yang penting adalah menempatkan mukjizat pada posisi yang benar. Mukjizat bukan pusat iman Kristen. Pusat iman Kristen adalah Yesus Kristus yang disalibkan dan bangkit. Mukjizat hanyalah tanda yang menunjuk kepada Dia. Jika seseorang hanya mengejar mukjizat tetapi tidak mau bertobat, tidak mau hidup dalam kebenaran, dan tidak mau memikul salib, maka ia telah kehilangan inti Injil.
Iman yang dewasa tidak bergantung pada pengalaman spektakuler. Iman yang sejati tetap berdiri teguh sekalipun doa belum dijawab, sekalipun kesembuhan belum datang, sekalipun jalan hidup terasa berat. Banyak tokoh iman dalam Alkitab tidak selalu hidup dalam mukjizat, tetapi mereka setia sampai akhir.
Jadi, apakah mukjizat di gereja zaman sekarang autentik? Jawabannya: bisa ya, bisa tidak. Ada pekerjaan Tuhan yang nyata, tetapi ada juga yang palsu, dibesar-besarkan, atau bercampur dengan motif manusia. Tugas orang percaya bukanlah menelan mentah-mentah setiap klaim, juga bukan menolak semuanya, melainkan menguji segala sesuatu dan berpegang pada yang baik.
Kiranya gereja di zaman ini kembali menempatkan firman Tuhan sebagai fondasi, Kristus sebagai pusat, dan kasih sebagai motivasi. Jika mukjizat terjadi, biarlah itu membawa orang semakin mengenal Yesus, bukan sekadar kagum pada pertunjukan rohani. Sebab mukjizat terbesar sesungguhnya bukanlah kesembuhan jasmani, melainkan hati yang bertobat, hidup yang diubahkan, dan jiwa yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah.