Keilahian Yesus: Lebih Dari Seorang Guru

Yesus dari Nazaret sering dipandang dunia sebagai seorang tokoh moral, nabi, atau guru agung. Ia dipuji karena ajaran-Nya tentang kasih, kebenaran, dan pengampunan. Namun pertanyaan yang jauh lebih mendalam adalah: Apakah Yesus hanya seorang guru? Atau lebih dari itu? Kesaksian Kitab Suci dengan jelas menuntun kita pada satu kesimpulan: Yesus adalah Allah sendiri yang menjadi manusia.

Pertama, Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Yesus mengklaim sifat-sifat yang hanya milik Allah. Ia berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku sudah ada” (Yoh. 8:58), sebuah pernyataan yang memakai nama ilahi Ego Eimi — “Aku adalah.” Reaksi orang-orang Yahudi yang segera hendak melempari Dia dengan batu membuktikan bahwa mereka memahami klaim tersebut sebagai pernyataan keilahian, bukan sekadar ungkapan puitis.

Kedua, Yesus menerima penyembahan, sesuatu yang dalam iman Yahudi hanya boleh diterima oleh Allah. Ketika Tomas berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28), Yesus tidak menegur dia, tetapi justru meneguhkan imannya. Berulangkali dalam Injil, orang-orang sujud menyembah Yesus, dan tidak pernah Ia melarang mereka. Seorang guru besar atau nabi tidak akan pernah menerima penyembahan—kecuali Dia memang Allah.

Ketiga, karya Yesus menunjukkan otoritas ilahi. Ia mengampuni dosa (Mrk. 2:5–7), menguasai alam (Mrk. 4:39), membangkitkan orang mati (Yoh. 11:43–44), dan pada akhirnya bangkit dari kematian dengan kuasa-Nya sendiri. Kebangkitan-Nya adalah puncak deklarasi bahwa Yesus bukan sekadar manusia, tetapi Tuhan yang hidup. Seperti dikatakan Paulus, “Ia dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati” (Rm. 1:4).

Keempat, para rasul dan Gereja mula-mula tanpa ragu menyembah Yesus sebagai Allah. Mereka mempertaruhkan hidup untuk bersaksi bahwa “Yesus adalah Tuhan” — sebuah pengakuan yang di dunia Romawi setara dengan tindakan pemberontakan. Tidak ada orang mau mati untuk mempertahankan bahwa “guru kami baik hati.” Tetapi mereka rela mati karena mereka melihat kemuliaan Yesus sebagai Tuhan yang bangkit, Allah yang sejati.

Akhirnya, keilahian Yesus bukan sekadar doktrin abstrak, tetapi kebenaran yang membawa keselamatan. Jika Yesus hanya guru, maka pengajaran-Nya sekadar moralitas tinggi yang sulit dicapai manusia. Namun karena Ia adalah Allah yang menjadi manusia, maka karya salib-Nya sungguh cukup untuk menebus dosa. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan, dan hanya karena Yesus adalah Allah, kita memiliki kepastian hidup kekal.

Dengan demikian, Yesus bukan hanya seorang guru, nabi, atau teladan etika. Ia adalah Tuhan yang menjelma, Sang Firman yang kekal, Raja segala raja, Juruselamat dunia. Setiap orang yang memahami klaim dan karya-Nya harus membuat pilihan: apakah Yesus hanya guru besar—atau Tuhan yang harus disembah? Kesaksian Alkitab dan sejarah Gereja dengan tegas menyatakan: Yesus adalah Allah yang hidup, lebih dari seorang guru.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *