Mengapa Tuhan tidak menampakkan diri secara jelas kepada semua orang? Banyak orang berkata, “Kalau memang Tuhan ada, mengapa Ia tidak muncul saja di langit, berbicara keras, dan membuat semua orang melihat-Nya?” Sekilas itu terdengar logis, tetapi Alkitab menunjukkan bahwa ketidakterlihatan Tuhan bukan tanda Ia jauh atau tidak peduli, melainkan cara Ia bekerja untuk menjangkau manusia secara lebih dalam. Tuhan tidak ingin hubungan yang lahir dari keterpaksaan. Jika Ia menampakkan diri secara fisik dan spektakuler setiap hari, manusia tidak lagi punya pilihan. Tidak ada ruang untuk iman, tidak ada ruang untuk kerelaan, semuanya berubah menjadi respon otomatis karena tidak berani melawan apa yang sudah terlihat. Tuhan menginginkan kasih, bukan kepatuhan yang dipaksa. Karena itu Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” Iman sejati muncul ketika seseorang mencari Tuhan bukan karena terpaksa, tetapi karena rindu mengenal-Nya.
Selain itu, dalam Alkitab setiap kali Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya, manusia selalu jatuh tersungkur, takut, dan merasa tidak layak. Itu karena kekudusan Tuhan begitu besar sehingga manusia berdosa tidak mampu menanggungnya. Jika Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya secara penuh hari ini, dunia ini tidak akan sanggup berdiri. Yang terjadi bukan penyataan kasih, tetapi penghakiman. Karena kasih, Tuhan menahan diri. Ia memberi manusia waktu untuk bertobat dan kembali, bukan langsung binasa oleh kemuliaan-Nya.
Yang sering terlupakan adalah bahwa Tuhan sebenarnya sudah menampakkan diri hanya saja tidak selalu dengan cara yang manusia harapkan. Tuhan menyatakan diri melalui ciptaan yang penuh keteraturan dan keindahan, melalui Firman yang mengungkapkan karakter dan kehendak-Nya, melalui pengalaman hidup yang tidak kebetulan, melalui suara hati yang disentuh Roh Kudus, dan yang paling jelas, melalui Yesus Kristus sendiri—Allah yang menjadi manusia, berjalan di bumi, berbicara, mengajar, menyembuhkan, mati, dan bangkit. Penampakan Tuhan yang paling nyata sudah diberikan, hanya saja banyak orang mengabaikannya karena mereka hanya mau bukti yang sesuai keinginan mereka.
Masalah terbesar bukan kurangnya bukti, tetapi kurangnya hati yang mau mencari. Banyak orang berkata, “Saya ingin melihat bukti Tuhan,” namun ketika bukti moral, historis, rohani, dan pengalaman diberikan, mereka tetap menutup hati. Bukan karena Tuhan tidak menampakkan diri, tetapi karena manusia tidak mau melihat. Tuhan berkata, “Barangsiapa mencari, ia akan menemukan,” artinya penyataan Tuhan akan paling jelas bagi orang yang benar-benar membuka hati.
Dan yang perlu diingat, suatu hari nanti Tuhan memang akan menampakkan diri secara penuh kepada seluruh dunia. Alkitab berkata, “Setiap mata akan melihat Dia.” Namun ketika hari itu tiba, itu bukan lagi waktu untuk beriman—itu hari penghakiman. Karena itu Tuhan menunda. Ia memberi kesempatan bagi manusia untuk mengenal-Nya melalui kasih dan kebenaran, bukan melalui paksaan atau ketakutan.
Jadi, Tuhan tidak menampakkan diri secara jelas kepada semua orang bukan karena Ia jauh, tetapi karena Ia menginginkan iman yang lahir dari hati, bukan keterpaksaan; karena kemuliaan-Nya terlalu besar untuk manusia berdosa; karena Ia sudah menyatakan diri melalui ciptaan, Firman, Roh Kudus, dan terutama melalui Yesus Kristus; karena manusia sering menutup hati sekalipun bukti ada di depan mata; dan karena pada akhirnya Ia memang akan menampakkan diri secara terang-terangan pada waktu-Nya. Sekarang adalah waktu anugerah—waktu bagi kita untuk mencari Tuhan, sebelum Ia menyatakan diri-Nya secara penuh kepada seluruh dunia.