Pertanyaan tentang asal-usul iblis sering kali muncul bukan hanya dari rasa ingin tahu teologis, tetapi juga dari pergumulan iman manusia: Jika Allah itu baik, mahakuasa, dan mahatahu, mengapa ada iblis? Apakah Allah menciptakan kejahatan? Pertanyaan ini menyentuh wilayah yang dalam dan serius, sebab menyangkut karakter Allah, kebebasan ciptaan, dan realitas dosa.
Allah Menciptakan Segala Sesuatu Baik
Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Tidak ada satu pun ciptaan yang berada di luar kedaulatan-Nya. Namun, Alkitab juga menegaskan bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan pada mulanya adalah baik (Kej. 1:31). Allah tidak menciptakan kejahatan, sebab kejahatan bertentangan dengan natur-Nya yang kudus dan sempurna.
Karena itu, penting untuk ditegaskan sejak awal: Allah tidak menciptakan iblis sebagai iblis. Allah menciptakan makhluk rohani—malaikat—dalam keadaan baik, mulia, dan kudus. Salah satu dari malaikat itu kemudian jatuh dalam dosa dan pemberontakan, dan dialah yang kita kenal sebagai iblis atau Satan.
Iblis sebagai Malaikat yang Jatuh
Alkitab tidak memberikan satu narasi panjang dan sistematis tentang kejatuhan iblis, tetapi berbagai bagian Kitab Suci memberi gambaran yang saling melengkapi. Yesaya 14:12–15 dan Yehezkiel 28:12–17 sering dipahami (dalam pembacaan teologis klasik) sebagai gambaran simbolis tentang kejatuhan makhluk yang penuh kemuliaan karena kesombongan. Ia ingin meninggikan diri menyamai Allah, dan keinginan itu menjadi awal kehancurannya.
Yesus sendiri berkata, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk. 10:18). Pernyataan ini menegaskan bahwa iblis bukan kekuatan yang setara dengan Allah, melainkan makhluk ciptaan yang telah jatuh dan berada di bawah penghakiman Allah.
Dengan demikian, iblis adalah hasil dari kehendak bebas yang disalahgunakan, bukan hasil dari ciptaan yang jahat sejak awal.
Kebebasan Kehendak dan Risiko Kasih
Mengapa Allah memberi kehendak bebas kepada malaikat (dan manusia), padahal Ia tahu ada risiko pemberontakan? Jawabannya berkaitan dengan hakikat kasih. Kasih yang sejati tidak dapat dipaksakan. Allah menghendaki relasi yang otentik, bukan ketaatan mekanis tanpa pilihan.
Tanpa kebebasan, tidak ada ketaatan yang bermakna, tidak ada kesetiaan yang sejati, dan tidak ada kasih yang tulus. Namun kebebasan selalu membawa risiko: kemungkinan untuk memilih melawan Allah. Iblis adalah contoh tragis dari makhluk yang menggunakan kebebasan itu untuk meninggikan diri dan menolak tunduk kepada Sang Pencipta.
Apakah Allah Bertanggung Jawab atas Kejahatan?
Pertanyaan ini sering menjadi batu sandungan. Jika Allah menciptakan makhluk yang akhirnya menjadi iblis, apakah Allah bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan iblis? Alkitab menjawab dengan jelas: Allah berdaulat, tetapi bukan pencipta kejahatan. Yakobus 1:13 berkata, “Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”
Allah mengizinkan kejatuhan, tetapi tidak menyebabkannya. Ada perbedaan besar antara mengizinkan dan menciptakan. Dalam kedaulatan-Nya, Allah sanggup memakai bahkan kejahatan untuk menggenapi rencana-Nya, tanpa menjadi sumber kejahatan itu sendiri.
Mengapa Iblis Tidak Langsung Dimusnahkan?
Jika iblis sudah jatuh dan jelas-jelas melawan Allah, mengapa Allah tidak langsung memusnahkannya? Alkitab menunjukkan bahwa sejarah keselamatan berjalan dalam kerangka waktu Allah. Keberadaan iblis yang masih diizinkan bukanlah tanda kelemahan Allah, melainkan bagian dari rencana penebusan yang lebih besar.
Dalam Kitab Ayub, iblis tidak dapat bertindak sembarangan tanpa izin Allah. Dalam Perjanjian Baru, iblis sudah dikalahkan secara decisif melalui salib Kristus (Kol. 2:15), tetapi penghakiman finalnya masih menunggu waktu yang ditetapkan Allah (Why. 20:10). Ini menunjukkan bahwa iblis adalah musuh yang sudah kalah, namun belum sepenuhnya disingkirkan dari panggung sejarah.
Peran Iblis dalam Rencana Allah
Walaupun terdengar paradoksal, Alkitab menunjukkan bahwa Allah tetap berdaulat bahkan atas keberadaan dan aktivitas iblis. Iblis tidak pernah berada di luar kendali Allah. Ia hanya dapat bertindak sejauh Allah mengizinkan, dan tindakannya—yang jahat—tidak pernah menggagalkan rencana keselamatan Allah.
Ironisnya, iblis yang berniat menghancurkan justru dipakai Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya: keadilan-Nya terhadap dosa, kesetiaan-Nya kepada umat-Nya, dan kasih-Nya yang menyelamatkan melalui Kristus.
Kristus dan Kekalahan Iblis
Puncak jawaban Alkitab terhadap persoalan iblis bukan terletak pada asal-usulnya, melainkan pada akhirnya. Yesus Kristus datang “untuk membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (1 Yoh. 3:8). Salib bukan kemenangan iblis, melainkan kekalahannya.
Bagi orang percaya, keberadaan iblis bukan alasan untuk hidup dalam ketakutan, melainkan panggilan untuk berjaga-jaga dan hidup dalam iman. Iblis bukan penguasa yang setara dengan Allah, melainkan ciptaan yang sudah dihakimi dan menunggu kebinasaan kekal.
Penutup: Allah Tetap Baik dan Berdaulat
Maka, menjawab pertanyaan awal: Allah menciptakan malaikat, bukan iblis. Iblis adalah malaikat yang jatuh karena pemberontakan. Keberadaannya tidak membuktikan bahwa Allah menciptakan kejahatan, tetapi bahwa Allah menciptakan makhluk dengan kebebasan yang nyata.
Dalam terang salib Kristus, kita melihat bahwa Allah tidak membiarkan kejahatan menang. Ia mengalahkannya dengan kasih, kebenaran, dan pengorbanan Anak-Nya. Akhir cerita sudah pasti: Allah menang, kebenaran ditegakkan, dan iblis akan lenyap untuk selamanya.
Di tengah dunia yang masih bergumul dengan kejahatan, iman Kristen berdiri teguh pada pengharapan ini: Allah tetap berdaulat, Allah tetap baik, dan kejahatan tidak akan menang.