Apakah Gereja Ortodoks Merayakan Natal?

Pertanyaan tentang apakah Gereja Ortodoks merayakan Natal sering muncul, terutama karena adanya perbedaan tanggal perayaan, tradisi liturgi, serta cara umat Ortodoks mengekspresikan iman mereka. Tidak jarang muncul anggapan bahwa Gereja Ortodoks “tidak merayakan Natal” atau bahkan menolak perayaan tersebut. Anggapan ini perlu diluruskan, sebab kenyataannya justru sebaliknya: Gereja Ortodoks merayakan Natal dengan sangat mendalam, sakral, dan penuh makna teologis.

Gereja Ortodoks percaya bahwa Natal adalah salah satu peristiwa paling fundamental dalam sejarah keselamatan. Kelahiran Yesus Kristus dipahami bukan sekadar sebagai peristiwa historis, melainkan sebagai misteri ilahi: Allah yang kekal berkenan mengambil rupa manusia demi keselamatan umat manusia. Dalam tradisi Ortodoks, Natal sering disebut sebagai Feast of the Nativity of Our Lord, God, and Savior Jesus Christ, sebuah sebutan yang menegaskan bahwa Pribadi yang lahir di Betlehem adalah Tuhan sendiri, bukan hanya tokoh moral atau nabi besar.

Perbedaan Tanggal Perayaan Natal

Salah satu alasan utama munculnya kebingungan adalah perbedaan tanggal perayaan Natal. Sebagian besar Gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 7 Januari, bukan 25 Desember seperti yang umum dirayakan oleh Gereja Katolik Roma dan banyak gereja Protestan. Perbedaan ini bukan disebabkan oleh perbedaan iman, melainkan karena penggunaan kalender yang berbeda.

Banyak Gereja Ortodoks Timur masih menggunakan Kalender Julian untuk menentukan hari-hari raya gerejawi. Dalam kalender ini, tanggal 25 Desember Julian jatuh pada 7 Januari dalam Kalender Gregorian yang dipakai secara global saat ini. Dengan demikian, ketika umat Ortodoks merayakan Natal pada 7 Januari, sesungguhnya mereka tetap merayakan Natal pada “25 Desember” menurut kalender liturgis mereka.

Perlu juga dicatat bahwa tidak semua Gereja Ortodoks merayakan Natal pada 7 Januari. Beberapa Gereja Ortodoks, seperti Gereja Ortodoks Yunani, menggunakan Kalender Julian Revisi atau Kalender Gregorian untuk perayaan Natal, sehingga mereka merayakannya pada 25 Desember. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan tanggal tidak memecah iman Ortodoks, karena esensi perayaan tetap sama.

Masa Puasa Natal dalam Tradisi Ortodoks

Ciri khas perayaan Natal dalam Gereja Ortodoks adalah adanya masa puasa yang panjang sebelum Natal, yang dikenal sebagai Nativity Fast atau Puasa Filipus. Puasa ini berlangsung selama 40 hari, dimulai pada pertengahan November hingga malam Natal. Puasa ini bukan sekadar menahan diri dari makanan tertentu, tetapi merupakan latihan rohani untuk mempersiapkan hati menyambut kelahiran Kristus.

Dalam tradisi Ortodoks, Natal tidak dirayakan secara tiba-tiba atau dangkal. Sukacita Natal lahir dari pertobatan, doa, dan pengendalian diri. Dengan berpuasa, umat diajak menyadari bahwa Kristus yang lahir di palungan datang untuk membebaskan manusia dari dosa dan kematian. Maka, puasa menjadi sarana untuk membersihkan batin agar layak menerima Sang Juruselamat.

Liturgi Natal yang Sakral dan Teologis

Perayaan Natal dalam Gereja Ortodoks sangat kental dengan liturgi dan nyanyian rohani yang kaya akan teologi. Ibadah Natal biasanya dimulai sejak malam sebelumnya, dengan rangkaian doa panjang yang mengajak umat merenungkan misteri Inkarnasi. Nyanyian-nyanyian Natal Ortodoks tidak berfokus pada suasana meriah atau romantis, melainkan pada makna rohani: Allah menjadi manusia tanpa kehilangan keilahian-Nya.

Ikon juga memainkan peranan penting dalam perayaan Natal Ortodoks. Ikon Kelahiran Kristus menggambarkan bukan hanya bayi Yesus di palungan, tetapi juga Maria, Yusuf, para gembala, para malaikat, bahkan gua yang gelap sebagai simbol dunia yang jatuh dalam dosa. Seluruh ikon ini mengajarkan bahwa Natal adalah terang ilahi yang masuk ke dalam kegelapan dunia.

Natal Tanpa Komersialisasi

Perbedaan lain yang mencolok adalah sikap Gereja Ortodoks terhadap komersialisasi Natal. Dalam tradisi Ortodoks, Natal tidak dipusatkan pada hadiah, dekorasi berlebihan, atau figur-figur populer seperti Santa Claus. Fokus utama tetap pada Kristus dan karya keselamatan-Nya. Sukacita Natal diekspresikan melalui ibadah, persekutuan, dan kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang miskin dan menderita.

Hal ini bukan berarti umat Ortodoks menolak kegembiraan atau kebersamaan keluarga, tetapi semua itu ditempatkan sebagai buah dari iman, bukan sebagai pusat perayaan. Dengan demikian, Natal dipahami sebagai peristiwa rohani yang mengubah hidup, bukan sekadar tradisi tahunan.

Kesimpulan

Jadi, apakah Gereja Ortodoks merayakan Natal? Jawabannya adalah: ya, Gereja Ortodoks merayakan Natal dengan sangat serius, khusyuk, dan mendalam. Perbedaan tanggal, tradisi, dan ekspresi perayaan tidak mengurangi makna Natal itu sendiri. Justru melalui kekayaan liturgi, puasa, dan refleksi teologis, Gereja Ortodoks menegaskan bahwa Natal adalah misteri besar: Allah yang turun menjadi manusia agar manusia dapat dipulihkan dan diselamatkan.

Natal dalam Gereja Ortodoks bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan perayaan keselamatan. Kristus lahir bukan hanya di Betlehem dua ribu tahun lalu, tetapi juga di dalam hati setiap orang yang dengan iman dan kerendahan hati membuka diri kepada-Nya.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *