Allah Sang Pencipta Segala Sesuatu

Kitab Kejadian pasal 1 adalah pintu gerbang seluruh Alkitab. Di sini kita menemukan kebenaran dasar tentang Allah: bahwa Ia adalah Pencipta segala sesuatu. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Kalimat ini menjadi dasar dari iman kita, bahwa alam semesta tidak terjadi secara kebetulan, melainkan berasal dari kehendak Allah yang berdaulat.

Dalam enam hari penciptaan, Allah menata segala sesuatu dengan teratur dan penuh hikmat. Ia memisahkan terang dari gelap, air dari daratan, dan menjadikan bumi tempat yang layak bagi kehidupan. Setiap firman yang diucapkan Allah menghasilkan sesuatu yang indah dan sempurna. “Berfirmanlah Allah… maka jadilah demikian.” Inilah kuasa firman Tuhan yang hidup—firman yang tidak hanya berkata, tetapi mencipta.

Manusia diciptakan pada hari keenam sebagai puncak karya ciptaan Allah. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1:26). Artinya, manusia diciptakan untuk mencerminkan sifat-sifat Allah—kasih, keadilan, kekudusan, dan kebijaksanaan. Kita dipanggil untuk menjadi wakil Allah di bumi, memelihara ciptaan-Nya, dan hidup dalam hubungan yang dekat dengan-Nya.

Kejadian 1 juga menegaskan bahwa segala yang diciptakan Allah “sungguh amat baik” (ayat 31). Dunia yang Allah ciptakan penuh kebaikan dan keteraturan, tetapi dosa kemudian merusak tatanan itu. Karena itu, memahami Kejadian 1 menolong kita melihat rencana Allah semula: dunia yang harmonis, di mana manusia hidup selaras dengan Pencipta dan ciptaan lainnya.

Penciptaan juga menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan atas waktu. Ia bekerja enam hari dan berhenti pada hari ketujuh, memberi contoh bagi manusia tentang ritme kerja dan istirahat. Hari Sabat bukan hanya hari berhenti bekerja, melainkan hari untuk menikmati persekutuan dengan Allah dan merenungkan karya-Nya.

Bagi orang percaya, Kejadian 1 mengingatkan bahwa hidup kita berasal dari Allah dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Kita bukan pusat alam semesta, tetapi bagian dari rencana besar Pencipta. Karena itu, setiap hari kita diajak untuk memuji Dia melalui kehidupan yang menghormati ciptaan, menjaga alam, dan mengasihi sesama.

Marilah kita belajar memandang dunia dengan mata iman—melihat segala sesuatu sebagai karya tangan Allah yang penuh kasih dan kebijaksanaan. Ketika kita mengenal Dia sebagai Pencipta, kita pun akan mengenal tujuan sejati hidup kita: untuk memuliakan Allah dalam segala hal.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36)

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *