Pertanyaan mengenai keadilan penderitaan orang benar telah menjadi pergumulan manusia sejak zaman kuno. Sejak tokoh Ayub meratap di tengah bencana yang menimpanya, hingga para pemazmur yang berseru, “Mengapa orang fasik hidup tenteram?” pertanyaan ini terus menggema di hati setiap orang percaya. Secara manusiawi, kita sering berpikir bahwa hidup benar seharusnya menghasilkan hidup nyaman, dan hidup jahat seharusnya mendatangkan hukuman cepat. Namun Alkitab menunjukkan bahwa kenyataan tidak selalu berjalan demikian, sehingga memaksa kita melihat penderitaan bukan hanya dari sudut pandang keadilan manusia, tetapi dari perspektif Allah yang lebih tinggi.
Penderitaan yang dialami orang benar tidak berarti Allah tidak adil, melainkan mengungkapkan bahwa keadilan Allah bekerja dengan cara yang berbeda dari logika manusia. Kita sering mengukur keadilan berdasarkan kesegeraan: jika seseorang baik, ia harus segera diberi imbalan; jika ia jahat, ia harus segera dihukum. Tetapi Allah bekerja dalam garis waktu kekekalan, bukan hanya dalam jangkauan hidup beberapa dekade di dunia ini. Karena itu, penderitaan orang benar kadang menjadi alat Allah untuk tujuan yang lebih besar—tujuan yang mungkin tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh pikiran terbatas manusia.
Penderitaan sering digunakan Allah untuk membentuk karakter rohani yang tidak dapat lahir lewat kemudahan. Seperti emas yang dimurnikan melalui api, demikian pula iman diperdalam melalui tekanan. Penderitaan orang benar bukan hukuman, melainkan proses pemurnian, penguatan, dan peneguhan. Melalui kesulitan, orang benar diajar untuk mengandalkan Allah, bukan kekuatan sendiri. Ia belajar mengenali keberadaan Allah secara lebih intim, memahami kasih-Nya secara lebih dalam, dan melihat dunia dengan perspektif kekekalan. Dalam proses ini, penderitaan justru menjadi sarana pertumbuhan yang tidak tergantikan.
Selain itu, penderitaan orang benar membuka ruang bagi kesaksian. Ketika orang yang hidup benar tetap setia di tengah kesulitan, dunia dapat melihat kekuatan iman yang autentik. Kesetiaan seperti ini tidak mungkin dipalsukan, dan justru menjadi bukti bahwa pengharapan orang percaya tidak terletak pada kondisi hidup melainkan pada Allah yang berdaulat. Bahkan, beberapa tokoh Alkitab paling berpengaruh—Yusuf, Daniel, Paulus—menjadi saksi terbesar justru ketika mereka menderita. Penderitaan tidak memadamkan terang mereka; justru tekanan membuat terang itu semakin nyata.
Penderitaan orang benar juga mengingatkan bahwa dunia ini bukan tujuan akhir. Jika segala keadilan harus diselesaikan di bumi, maka banyak hal akan tampak tidak seimbang. Namun Alkitab menegaskan bahwa Allah menyediakan penghakiman dan pemulihan sempurna pada akhir zaman. Tidak ada ketaatan yang sia-sia, tidak ada air mata yang tidak diperhitungkan, dan tidak ada ketidakadilan yang tidak akan dipulihkan. Dengan demikian, keadilan Allah bukan hanya realitas masa kini, tetapi juga janji eskatologis yang mengarahkan mata orang percaya kepada kekekalan.
Yang terpenting, penderitaan orang benar menemukan makna terdalamnya dalam diri Kristus. Yesus adalah Pribadi paling benar yang pernah hidup, namun Ia mengalami penderitaan paling besar. Di salib, ketidakadilan dunia bertemu dengan keadilan Allah. Di situ kita melihat bahwa Allah tidak jauh dari penderitaan; Ia masuk ke dalamnya. Karena itu, ketika orang benar menderita, mereka tidak berjalan sendirian. Mereka berjalan bersama Tuhan yang telah merasakan luka manusia, dan yang mampu mengubah penderitaan menjadi kemuliaan.
Dengan demikian, apakah penderitaan orang benar adil? Jika dilihat hanya dari sudut pandang dunia, jawabannya mungkin tidak. Namun jika dilihat dari perspektif Allah yang lebih luas, penderitaan itu bukan ketidakadilan melainkan bagian dari karya ilahi yang memurnikan, menguatkan, menyaksikan, dan mempersiapkan orang percaya menuju kemuliaan kekal. Penderitaan orang benar tidak pernah sia-sia, karena berada di tangan Allah yang adil, bijaksana, dan penuh kasih. Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa penderitaan, tetapi Ia menjanjikan bahwa penderitaan orang benar selalu memiliki tujuan, selalu dibatasi oleh kasih-Nya, dan pada akhirnya akan diganti dengan kemuliaan yang jauh lebih besar dari apa pun yang dapat dibandingkan di dunia ini.