Pertanyaan tentang keadilan Allah ketika orang benar mengalami penderitaan merupakan salah satu isu paling tua dan paling sering muncul dalam perjalanan iman. Secara naluriah, manusia menganggap bahwa hidup benar harus menghasilkan kehidupan yang lancar, aman, dan diberkati. Sebaliknya, ketika orang benar justru menghadapi masalah, sakit, tekanan, fitnah, atau ketidakadilan, muncul pergumulan besar: Apakah ini adil? Apakah Tuhan tidak melihat? Apakah kesetiaan tidak ada harganya? Alkitab tidak menutup-nutupi kenyataan bahwa orang benar memang bisa menderita. Namun, di balik semua itu, terdapat jawaban yang jauh lebih dalam tentang karakter Allah, rencana-Nya, dan nilai kekekalan yang Ia ingin nyatakan.
Pertama, penderitaan orang benar bukan bukti ketidakadilan Allah, tetapi bukti dunia yang telah rusak oleh dosa. Dunia tidak lagi mencerminkan keadilan sempurna sejak manusia jatuh dalam dosa. Akibatnya, orang benar pun bisa menjadi korban ketidakadilan, sama seperti Ayub yang hidup benar namun mengalami kehilangan besar tanpa sebab dari dirinya. Penderitaan tidak selalu berkaitan dengan moralitas pribadi. Yesus sendiri yang tanpa dosa mengalami penderitaan paling besar. Jika kesempurnaan tidak membebaskan Kristus dari penderitaan, maka tidak mengherankan bila orang percaya pun harus melewati jalan yang sama.
Kedua, penderitaan menjadi sarana pembentukan karakter rohani. Roma 5:3–4 menyatakan bahwa penderitaan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan. Dalam perspektif ini, penderitaan bukan hukuman, tetapi alat. Allah tidak sedang menjatuhkan vonis, melainkan sedang menempa kedewasaan rohani yang tidak dapat dibangun melalui kenyamanan. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, iman juga dimurnikan melalui proses yang sulit namun mulia. Tanpa tekanan, tidak ada kekuatan. Tanpa perjuangan, tidak ada kedewasaan. Tanpa ujian, tidak ada kesaksian.
Ketiga, penderitaan memberi kesempatan bagi kemuliaan Allah dinyatakan melalui hidup orang percaya. Ketika dunia melihat orang benar tetap setia, tetap mengasihi, tetap jujur, tetap berharap, bahkan di tengah penderitaan, di situlah terang Kristus terlihat paling jelas. Kesaksian terbesar tidak lahir dari kehidupan tanpa masalah, tetapi dari keteguhan percaya di tengah badai. Seperti Paulus berkata, “Kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan.” Allah sering menunjukkan kekuatan-Nya justru ketika manusia berada di titik paling rendah, sehingga jelas bahwa kemenangan itu bukan hasil kemampuan manusia, tetapi anugerah Tuhan.
Keempat, penderitaan orang benar sering kali berkaitan dengan tujuan-tujuan Allah yang lebih besar daripada hidup pribadi. Yusuf menderita bukan karena ia jahat, tetapi karena Allah sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi penyelamat bagi banyak orang. Musa diproses di padang gurun karena Allah hendak memakainya sebagai pemimpin besar. Demikian pula penderitaan orang percaya kadang membawa dampak bagi keluarga, gereja, bahkan generasi berikutnya sesuatu yang tidak selalu terlihat saat ini. Apa yang tampak tidak adil di mata manusia bisa menjadi bagian dari rencana ilahi yang jauh lebih luas.
Kelima, penderitaan orang benar hanya dapat dimengerti secara penuh dari perspektif kekekalan, bukan hanya kehidupan sementara di dunia. Jika hidup hanya sebatas 70–80 tahun, penderitaan tampak seperti ketidakadilan. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa hidup manusia melampaui dunia ini. Upah orang benar bukan hanya untuk kehidupan sekarang, tetapi untuk kekekalan. Di hadapan takhta Allah, tidak ada air mata yang sia-sia, tidak ada kesakitan yang tidak dihitung, dan tidak ada kesetiaan yang tidak dibalas. “Penderitaan sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan.” Dengan perspektif ini, keadilan Allah tidak diukur dari kenyamanan sementara, tetapi dari hasil akhir yang sempurna di kekekalan.
Maka, apakah penderitaan orang benar adil? Dalam kacamata dunia yang terbatas, mungkin terlihat tidak adil. Namun dalam perspektif Allah yang mahatahu, penderitaan bukan ketidakadilan, melainkan bagian dari rencana yang baik, penuh tujuan, dan berorientasi pada kekekalan. Allah tidak pernah salah menempatkan penderitaan dalam hidup orang benar. Ia tidak pernah lepas tangan. Ia tidak pernah menutup mata. Justru melalui penderitaan itulah Ia bekerja, membentuk, menguatkan, menyatakan kemuliaan, serta mempersiapkan upah kekal yang tidak dapat dilenyapkan. Orang benar mungkin menderita, tetapi mereka tidak pernah dibiarkan sendirian, dan hasil akhirnya selalu berada dalam keadilan dan kasih Allah yang sempurna.