Sikap Kristen terhadap ilmu pengetahuan modern tidaklah bersifat menolak atau memusuhi penemuan baru, melainkan menempatkannya pada posisi yang benar sesuai terang Alkitab. Iman Kristen sejak awal berdiri di atas keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, sumber dari segala kebenaran dan keteraturan. Karena itu, mempelajari dunia ini—entah melalui fisika, biologi, kedokteran, teknologi, atau berbagai cabang sains lainnya pada dasarnya adalah mempelajari karya Allah sendiri. Di sepanjang sejarah, banyak tokoh ilmuwan besar, seperti Isaac Newton, Blaise Pascal, atau Johannes Kepler, justru melihat sains sebagai sarana menyelidiki keagungan ciptaan. Ini menunjukkan bahwa iman dan ilmu bukan dua hal yang bertentangan; keduanya dapat berjalan bersama ketika ditempatkan dalam relasi yang tepat.
Dalam perspektif Kristen, ilmu pengetahuan modern dihargai karena memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Melalui sains, manusia menemukan vaksin, teknologi komunikasi, obat-obatan, rekayasa teknik, hingga berbagai inovasi yang membuat hidup lebih efisien dan aman. Semua ini dapat dipandang sebagai bentuk anugerah umum—pemberian Allah bagi seluruh umat manusia tanpa memandang iman mereka. Namun nilai dari sains tidak berarti tanpa batas. Kekristenan mengingatkan bahwa sains hanyalah alat, bukan penentu makna tertinggi hidup manusia. Ilmu dapat menjelaskan mekanisme bagaimana sesuatu terjadi, tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan moral, tujuan hidup, atau makna keberadaan. Di sinilah iman melengkapi wilayah yang tidak dapat dijangkau oleh observasi ilmiah.
Sikap Kristen juga mengakui bahwa keterbatasan manusia membuat pengetahuan ilmiah selalu berkembang dan dapat berubah. Karena itu, orang Kristen dipanggil untuk bersikap rendah hati: terbuka pada temuan baru, tetapi tidak mudah terombang-ambing oleh setiap teori yang belum teruji. Alkitab sendiri tidak dimaksudkan menjadi buku sains, melainkan kitab keselamatan. Maka, ketika ada perbedaan antara penafsiran Alkitab dan penemuan ilmiah, gereja perlu bijaksana membedakan: apakah yang perlu dikoreksi adalah penafsirannya, ataukah sainsnya yang belum lengkap. Banyak konflik semu antara iman dan sains sebenarnya muncul bukan karena Alkitab menolak ilmu, tetapi karena manusia salah memahami keduanya.
Di era modern, sikap Kristen yang sehat adalah menghargai ilmu pengetahuan sebagai sarana memahami ciptaan, menggunakan teknologi dengan bijak, tetapi tetap menempatkan iman sebagai fondasi moral dan rohani. Orang Kristen dapat dan seharusnya terlibat aktif dalam dunia sains menjadi dokter, peneliti, insinyur, atau akademisi sebagai wujud mandat budaya untuk “mengolah dan menjaga bumi.” Namun dalam semua pencapaian itu, umat percaya dipanggil untuk tetap sadar bahwa hikmat tertinggi berasal dari Allah. Ilmu memberikan fakta, tetapi Kristus memberikan kebenaran. Ilmu mengungkapkan hukum alam, tetapi iman mengingatkan tujuan hidup. Ketika keduanya berjalan beriringan, kita bukan hanya melihat keindahan ciptaan, tetapi juga menyaksikan kebesaran Sang Pencipta.