Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, bahkan terdengar nyeleneh. Tapi justru karena kesederhanaannya, pertanyaan ini sering jadi pemicu perdebatan panjang antara iman, bahasa, dan sejarah. Kalau Yesus memang Tuhan, kenapa dalam Alkitab Dia lebih sering disebut “Yesus”, “Anak Manusia”, atau “Anak Allah”? Kenapa tidak langsung saja disebut “Allah” supaya jelas dan tidak bikin bingung?
Jawabannya tidak sesederhana “karena Alkitab begitu”, tapi berkaitan erat dengan konteks sejarah, bahasa, cara Allah menyatakan diri-Nya, dan bagaimana manusia bisa memahami-Nya.
Pertama-tama, kita harus paham bahwa “Allah” bukan nama diri. “Allah” adalah sebutan, sama seperti “God” dalam bahasa Inggris atau “Elohim” dalam bahasa Ibrani. Dalam Alkitab Ibrani, kata yang dipakai untuk Allah adalah Elohim atau YHWH (Yahweh). Dalam Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai adalah Theos. Jadi sejak awal, sebutan untuk Allah memang selalu mengikuti bahasa dan konteks budaya pendengarnya.
Yesus hidup sebagai manusia Yahudi abad pertama. Ia berbicara dalam bahasa Aram, berpikir dalam kerangka iman Yahudi, dan hidup di tengah bangsa yang sangat sensitif soal penyebutan nama Allah. Bagi orang Yahudi, nama Allah itu kudus dan tidak sembarangan diucapkan. Bahkan sampai hari ini, banyak orang Yahudi tidak menyebut “YHWH” secara langsung. Jadi bayangkan, jika Yesus secara terang-terangan berkata, “Aku adalah Allah,” dengan bahasa dan pengertian modern kita, itu bukan cuma kontroversial—itu akan langsung dianggap penghujatan sebelum orang sempat memahami siapa Dia sebenarnya.
Karena itu, Yesus memilih jalan pewahyuan yang bertahap. Ia tidak datang dengan slogan, tapi dengan hidup. Ia tidak datang membawa definisi, tapi menghadirkan realitas. Ia menyebut diri-Nya “Anak Manusia”, sebuah istilah yang bagi kita terdengar biasa, tapi bagi pembaca Kitab Daniel adalah gelar ilahi—sosok yang menerima kuasa dan kemuliaan kekal dari Allah sendiri. Ia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu,” “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa,” dan Ia mengampuni dosa—sesuatu yang menurut iman Yahudi hanya bisa dilakukan oleh Allah.
Dengan kata lain, Yesus tidak sibuk menempelkan label, tapi menunjukkan identitas-Nya lewat tindakan dan otoritas-Nya.
Selain itu, iman Kristen tidak mengajarkan Allah yang jauh dan abstrak, tapi Allah yang menjadi manusia. Ini kunci pentingnya. Yesus bukan sekadar “Allah yang turun menyamar”, melainkan Firman yang menjadi daging. Ia lapar, letih, menangis, menderita, dan mati. Kalau Yesus sejak awal hanya disebut “Allah” tanpa penekanan pada kemanusiaan-Nya, maka inti Injil justru hilang: bahwa Allah benar-benar masuk ke dalam sejarah manusia, bukan berdiri di luar sambil menunjuk.
Gelar “Yesus” sendiri punya makna teologis yang dalam. Nama itu berarti “Tuhan menyelamatkan”. Jadi setiap kali nama Yesus disebut, sebenarnya sedang diucapkan pengakuan iman: bahwa keselamatan datang dari Tuhan sendiri. Bukan kebetulan, bukan sekadar nama manusia biasa.
Lalu bagaimana dengan pengakuan gereja? Dalam iman Kristen, Yesus memang diakui sebagai Allah. Injil Yohanes bahkan dibuka dengan pernyataan tegas: “Firman itu adalah Allah.” Tomas berseru kepada Yesus, “Tuhanku dan Allahku!” Paulus menyebut Yesus sebagai Dia yang “dalam rupa Allah”. Jadi masalahnya bukan Yesus tidak disebut Allah, tapi cara penyebutan itu disampaikan dalam kerangka pewahyuan, bukan slogan instan.
Pertanyaan “kenapa nggak disebut Allah aja?” sebenarnya lebih mencerminkan cara pikir modern yang suka serba langsung dan eksplisit. Sementara Alkitab ditulis dalam budaya yang memahami makna melalui simbol, relasi, dan tindakan. Identitas Yesus bukan dijelaskan dengan satu kata, tapi dibuka sedikit demi sedikit, sampai pada puncaknya di salib dan kebangkitan.
Akhirnya, iman Kristen tidak berdiri pada soal istilah, tapi pada siapa Yesus itu dan apa yang Ia lakukan. Apakah Dia punya otoritas ilahi? Ya. Apakah Dia menyatakan Allah secara penuh? Ya. Apakah gereja mengakui-Nya sebagai Allah sejati? Ya. Tapi semua itu tidak disampaikan dengan cara teriak “Aku Allah”, melainkan dengan hidup yang membuat orang akhirnya bersujud dan berkata, “Sungguh, Ia adalah Tuhan.”
Dan mungkin justru di situlah kedalamannya. Allah tidak memaksa manusia percaya lewat label, tapi mengundang manusia mengenal-Nya lewat perjumpaan.