Mengapa di zaman modern ini mukjizat terasa lebih jarang dibanding kisah-kisah Alkitab atau pengalaman rohani di masa lalu? Pertanyaan ini sering muncul ketika orang melihat dunia yang serba rasional, penuh teknologi, dan kadang terasa jauh dari hal-hal supranatural. Namun sesungguhnya, alasan “kemunculan mukjizat” tidak pernah terlepas dari cara Tuhan bekerja dan cara manusia merespons karya-Nya.
Pertama, mukjizat dalam Alkitab memang tidak terjadi setiap hari. Bahkan pada masa para nabi, mukjizat biasanya muncul pada “musim-musim tertentu” ketika Tuhan ingin meneguhkan pesan, menuntun bangsa-Nya, atau memulai sebuah fase rohani yang baru. Jadi, jika sekarang kita merasa mukjizat jarang, bisa jadi karena kita membandingkan kehidupan sehari-hari dengan momen-momen luar biasa yang dicatat secara padat dalam Kitab Suci, padahal peristiwa itu sendiri tersebar dalam rentang waktu ratusan tahun.
Kedua, Tuhan sering memilih bekerja melalui cara-cara yang tampak “biasa”, tetapi memiliki dampak luar biasa. Dulu, ketika tidak ada obat, kesembuhan mendadak terlihat sebagai mukjizat besar. Hari ini, Tuhan memakai ilmu kedokteran, teknologi, dan keahlian manusia sebagai alat-Nya. Cara kerja-Nya berubah, tetapi kuasa-Nya tidak berubah. Banyak hal yang dulu dianggap supranatural, kini terlihat “normal” karena Tuhan sudah memberikan hikmat kepada manusia untuk mengerti dan mengelolanya.
Ketiga, dunia modern cenderung sangat skeptis. Banyak orang hanya percaya pada apa yang dapat diuji oleh sains, sehingga ketika Tuhan melakukan sesuatu yang ilahi, sering kali manusia menafsirkannya sebagai kebetulan, keberuntungan, atau faktor alam. Karena sudut pandang manusia bergeser, kepekaan terhadap karya Tuhan pun ikut menurun. Bukan karena Tuhan kurang bekerja, tetapi karena manusia kurang melihat.
Keempat, sikap hati juga berpengaruh. Alkitab menunjukkan bahwa iman membuka ruang bagi karya Tuhan. Bukan berarti mukjizat bergantung pada iman manusia, tetapi respons iman memudahkan manusia melihat apa yang sebenarnya Tuhan lakukan. Jika seseorang hanya fokus pada bukti fisik, ia bisa melewatkan mukjizat dalam bentuk perlindungan, perubahan hati, pemulihan hubungan, jalan keluar dari masalah, atau penghiburan di masa sulit hal-hal yang sesungguhnya merupakan mukjizat moral dan rohani yang besar.
Kelima, mukjizat fisik bukanlah fokus utama dalam zaman ini. Tujuan Allah bukan membuat manusia terkagum-kagum pada hal spektakuler, tetapi membawa mereka mengenal Kristus, bertumbuh dalam iman, menjadi serupa dengan-Nya, dan menghidupi Injil dalam keseharian. Kadang Tuhan justru membentuk karakter melalui proses, bukan peristiwa spontan. Di tengah proses itulah mujizat batin terjadi: hati dikuatkan, hidup diubah, dan seseorang tetap setia meski sedang diuji.
Akhirnya, mukjizat sesungguhnya tidak hilang. Ia hanya hadir dalam bentuk yang sering tidak kita sadari. Saat seseorang dipulihkan dari luka batin yang mendalam, ketika ada pengampunan dalam keluarga, ketika Tuhan menutup pintu yang berbahaya dan membuka jalan yang lebih baik, atau saat seseorang kembali kepada Kristus setelah bertahun-tahun jauh itu semua mukjizat yang tidak kalah besar dari mukjizat fisik. Tuhan tetap bekerja, sama kuat dan sama kasihnya seperti dahulu. Yang perlu berubah bukan kuasa-Nya, melainkan mata kita untuk melihat bahwa mukjizat tidak selalu datang melalui kilatan spektakuler, tetapi sering hadir di tengah kehidupan sehari-hari dengan cara yang lembut, tepat waktu, dan penuh kasih.