Pertanyaan ini telah menjadi salah satu pergumulan terbesar dalam kekristenan. Jika Tuhan Mahatahu dan mengetahui sejak semula bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa, mengapa Ia tetap menciptakan manusia? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat sifat Allah, tujuan penciptaan, serta makna kehendak bebas yang diberikan kepada manusia.
Pertama, Tuhan menciptakan manusia karena kasih. Kasih sejati pada hakikatnya ingin memberi, bukan menahan. Allah tidak menciptakan manusia untuk mengisi kekurangan dalam diri-Nya, sebab Ia sempurna. Ia menciptakan karena kasih-Nya ingin dinyatakan dalam relasi. Kasih yang sejati membutuhkan objek yang dapat merespons secara bebas. Jika manusia diciptakan tanpa kemampuan memilih, maka kasih manusia kepada Allah hanya akan menjadi mekanis, bukan hubungan nyata. Karena itulah Tuhan memberikan kehendak bebas yang membuka kemungkinan manusia memilih untuk menaati atau menolak Dia.
Kedua, Tuhan mengetahui kejatuhan manusia, tetapi Ia juga telah menyediakan keselamatan lebih dahulu. Alkitab menyatakan bahwa Anak Domba “telah disembelih sejak dunia dijadikan” — artinya rencana penebusan bukanlah reaksi mendadak, melainkan bagian dari rancangan Allah yang kekal. Kejatuhan manusia tidak membuat Allah gagal. Justru melalui proses itu, kasih dan anugerah-Nya dapat dinyatakan dengan lebih dalam. Tanpa dosa, manusia tidak akan mengenal kedalaman pengampunan, belas kasih, dan pemulihan yang Allah sediakan.
Ketiga, tujuan Allah bukan hanya menciptakan, tetapi membentuk manusia menjadi serupa dengan Kristus. Dalam rencana besar-Nya, Allah menginginkan umat yang mengasihi Dia secara sukarela dan dibentuk melalui perjalanan iman, pergumulan, serta pemulihan. Kejatuhan manusia membuka jalan bagi perkembangan rohani, pertobatan, dan kedewasaan iman yang tidak akan terjadi bila manusia tidak memiliki pilihan moral.
Keempat, melalui keberadaan dosa, Allah menyatakan keadilan sekaligus kasih-Nya. Dosa menunjukkan betapa seriusnya pilihan manusia, dan melalui penebusan, Allah menunjukkan betapa dalamnya cinta-Nya. Keadilan Allah terlihat dalam konsekuensi dosa, namun kasih-Nya terlihat dalam pengorbanan Kristus yang menyelamatkan manusia dari dosa itu sendiri.
Akhirnya, Tuhan menciptakan manusia karena Ia ingin manusia mengalami dan membagikan kasih-Nya secara nyata. Ia tahu manusia akan jatuh, tetapi Ia juga tahu bahwa melalui penebusan, manusia akan mengenal Dia bukan hanya sebagai Pencipta, tetapi sebagai Penyelamat, Bapa, dan Sahabat. Dalam rencana-Nya yang sempurna, kejatuhan manusia bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju kemuliaan yang lebih besar.
Dengan demikian, Allah menciptakan manusia bukan karena Ia mengabaikan potensi kejatuhan, tetapi karena Ia memiliki rencana keselamatan yang jauh melampaui kegagalan manusia. Rencana itu lahir dari kasih-Nya yang kekal, dan berujung pada pemulihan serta kehidupan kekal bagi semua yang percaya kepada-Nya.