Ketika kita membaca kisah air bah pada zaman Nuh, sering muncul pertanyaan: mengapa Tuhan bertindak begitu keras, sampai seluruh dunia ditenggelamkan? Untuk memahami hal ini, kita harus melihat konteks rohani, moral, dan teologis yang melatarbelakangi tindakan Allah dalam kejadian tersebut. Alkitab tidak memotret Allah sebagai sosok yang mudah marah atau bertindak tanpa alasan; sebaliknya, tindakan-Nya selalu berakar pada keadilan, kesucian, dan kasih-Nya yang tidak berubah. Maka, menghampiri kisah ini bukan dengan kecurigaan, melainkan dengan upaya memahami alasan Allah yang lebih dalam.
Pertama, Alkitab mencatat bahwa kejahatan manusia telah mencapai titik ekstrem. Kejadian 6:5 menyatakan, “segala kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Ungkapan ini tidak menggambarkan sekadar masyarakat yang rusak, tetapi sebuah dunia yang setiap pikiran, keinginan, imajinasi, dan keputusan moralnya telah sepenuhnya dikuasai kejahatan. Ini adalah kondisi yang tidak hanya jahat secara moral, tetapi juga destruktif secara total: manusia merusak diri, sesama, dan ciptaan. Tanpa batasan, kejahatan akan membinasakan seluruh kehidupan di bumi.
Kedua, air bah adalah tindakan penghakiman sekaligus penyelamatan. Allah tidak hanya “menghukum,” tetapi juga “menyelamatkan” sisa umat yang bersedia hidup benar. Nuh disebut sebagai “orang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya,” bukan berarti ia sempurna, tetapi ia masih mau mendengar suara Allah dan berjalan dalam kebenaran. Di tengah dunia yang gelap total, satu keluarga yang masih memegang firman dipelihara. Air bah menghentikan gelombang kejahatan yang tak terkendali, sekaligus menjaga agar rencana keselamatan Allah bagi dunia tetap berjalan.
Ketiga, tindakan Allah di zaman Nuh menegaskan keadilan dan kesucian-Nya. Allah tidak dapat membiarkan dosa terus berkembang tanpa batas. Seperti seorang hakim yang adil tidak bisa menutup mata terhadap kejahatan yang melampaui batas, demikian pula Allah. Jika Allah membiarkan dunia yang rusak parah itu terus berjalan, maka bukan hanya manusia akan kian hancur, tetapi Allah sendiri akan terlihat tidak adil, seolah-olah Ia tidak peduli terhadap penderitaan dan penindasan yang ditimbulkan oleh kejahatan.
Keempat, air bah mengajarkan bahwa kesabaran Allah sangat panjang, tetapi bukan tanpa batas. Sebelum air bah terjadi, Allah memberi waktu 120 tahun (Kej. 6:3) kesempatan bagi manusia untuk bertobat. Ini menunjukkan bahwa hukuman bukan tindakan spontan, melainkan keputusan terakhir setelah ruang pertobatan dibuka lebar-lebar. Selama Nuh membangun bahtera, ia juga menjadi “pemberita kebenaran” (2 Ptr. 2:5); namun generasi itu memilih menolak.
Kelima, kisah ini adalah gambaran awal dari pola keselamatan dalam Alkitab: ada penghakiman atas dosa, tetapi selalu ada jalan keselamatan yang Allah sediakan. Bahtera adalah simbol anugerah tempat perlindungan bagi siapa pun yang mau percaya. Pola ini berpuncak kepada Kristus: manusia berdosa, penghakiman menanti, tetapi Allah menyediakan “bahtera” baru yaitu keselamatan dalam Yesus.
Jadi, tindakan Allah di zaman Nuh bukan sekadar hukuman keras, melainkan keputusan ilahi yang timbul dari keadilan yang sempurna, kesucian yang mutlak, dan kasih yang menyediakan jalan pelarian bagi mereka yang mau datang kepada-Nya. Air bah menjadi saksi bahwa Allah tidak menoleransi dosa, tetapi sekaligus Ia tidak pernah meninggalkan rencana pemulihan bagi dunia ini. Dalam perspektif ini, air bah bukan hanya tragedi, tetapi juga titik awal dari kesempatan baru bagi umat manusia.