Mengapa Yesus Harus Mati Disalib? Apakah Tidak Ada Cara Lain?

Pertanyaan mengapa Yesus harus mati di kayu salib, dan apakah tidak ada cara lain, adalah pertanyaan yang sudah muncul sejak gereja mula–mula. Untuk memahami jawabannya, kita perlu melihat gambaran besar kisah Alkitab tentang dosa, keadilan Allah, dan kasih-Nya bagi manusia. Menurut Alkitab, masalah utama manusia adalah dosa—bukan hanya perbuatan salah, tetapi kondisi yang membuat manusia terpisah dari Allah. Pemisahan ini menimbulkan kematian, bukan sekadar berakhirnya hidup secara fisik, tapi juga kematian rohani, yaitu hubungan yang terputus dari Sang Sumber Kehidupan. Jika Allah hanya mengampuni tanpa konsekuensi, keadilan-Nya akan dipertanyakan. Tetapi jika Allah menjalankan keadilan tanpa belas kasih, maka tidak ada manusia yang bisa selamat. Di sinilah salib menjadi pusat dari rencana keselamatan.

Di dalam diri Yesus, keadilan Allah dan kasih Allah bertemu. Keadilan menuntut bahwa dosa harus dihukum; namun kasih mendorong Allah untuk menyelamatkan manusia. Yesus bukan korban sejarah, melainkan Ia sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mengambil nyawa-Nya, tetapi Ia memberikannya dengan sukarela. Dengan kata lain, penyaliban bukan kecelakaan, melainkan pilihan. Ketika Yesus mati di salib, keadilan ditegakkan karena dosa tidak diabaikan, tetapi pada saat yang sama kasih dinyatakan karena Allah sendiri menanggung hukuman yang seharusnya menjadi bagian manusia.

Pertanyaannya kemudian, mengapa harus salib? Mengapa bukan cara lain? Dalam pemahaman teologi Kristen, penebusan tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa, sebab semua manusia juga berdosa. Tidak ada yang bisa menjadi korban pengganti yang sempurna. Hanya Yesus, yang tanpa dosa, yang dapat memikul konsekuensi dosa dunia. Salib menjadi jalan yang paling jelas menyingkapkan kedalaman kasih Allah. Ia tidak hanya mengirim pesan pengampunan, tetapi turun menjadi manusia, merasakan penderitaan manusia, dan menyerahkan diri-Nya sampai mati. Dengan menanggung penderitaan di kayu salib, Allah menunjukkan bahwa kasih-Nya bukan teori, tetapi tindakan nyata.

Selain itu, seluruh kisah dalam Perjanjian Lama sebenarnya sudah mengarah pada salib. Nabi Yesaya menulis tentang Hamba Tuhan yang akan terluka karena pelanggaran umat-Nya, tertikam oleh pemberontakan manusia. Gambaran tentang korban tak bercacat dalam sistem ibadah Israel juga menunjuk kepada satu korban sempurna yang akan datang. Jadi, salib bukan solusi mendadak; salib adalah bagian dari rencana Allah sejak semula.

Kematian Yesus juga memiliki makna rohani yang lebih dalam dari sekadar kematian fisik. Dengan mati dan bangkit, Ia mengalahkan kuasa dosa dan maut. Kematian seolah menjadi pintu masuk bagi kemenangan yang lebih besar. Tanpa kebangkitan, salib hanya menjadi tragedi. Tetapi karena Yesus bangkit, salib berubah menjadi simbol kemenangan dan pembebasan. Ia membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada Allah, bukan berdasarkan usaha manusia, tetapi karena karya Kristus yang sempurna.

Jadi, ketika kita bertanya apakah tidak ada cara lain, jawaban teologisnya adalah: cara lain mungkin tampak ada dari sudut pandang manusia, tetapi tidak ada cara lain yang sekaligus menegakkan keadilan Allah, menyatakan kasih-Nya sepenuhnya, menggenapi nubuatan, menyediakan korban yang sempurna, dan menghancurkan kuasa dosa serta maut. Semua itu bertemu hanya di salib. Di sana, Allah menunjukkan kasih yang terbesar, kasih yang rela memberikan nyawa-Nya demi menyelamatkan manusia.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *