Yesus Tidak Tahu Hari Kiamat? Ini Kata Alkitab

Banyak orang Kristen sering mengucapkan kalimat ini dengan sangat yakin: “Apa yang Bapa tahu, pasti Anak juga tahu.” Kalimat ini terdengar logis, terdengar rohani, bahkan terasa selaras dengan keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan. Namun pertanyaannya sederhana: benarkah Alkitab sendiri mengatakan demikian?

Mari kita buka langsung perkataan Yesus dalam Matius 24:36:

“ Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.”

Ayat ini sangat jelas, lugas, dan sulit untuk dipelintir. Yesus dengan sadar dan terbuka menyatakan bahwa ada satu hal yang tidak Ia ketahui: waktu kedatangan akhir itu. Bukan hanya manusia yang tidak tahu, bukan hanya malaikat, tetapi Anak pun tidak. Hanya Bapa sendiri.

Di sinilah banyak orang merasa tidak nyaman. Sebab jika Yesus tidak mengetahui sesuatu, bukankah itu berarti Ia tidak mahatahu? Bukankah Tuhan seharusnya tahu segala sesuatu? Maka muncullah berbagai penafsiran untuk “menyelamatkan” doktrin, seperti mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tahu, hanya berpura-pura tidak tahu. Ada juga yang berkata bahwa sebagai Tuhan Ia tahu, tetapi sebagai manusia Ia tidak tahu. Ada pula yang berargumen bahwa Anak sebenarnya tahu, hanya saja tidak diizinkan untuk mengungkapkannya.

Masalahnya, semua penjelasan itu tidak berasal dari teks. Itu adalah tambahan dari luar ayat. Jika kita jujur membaca Matius 24:36, Yesus tidak mengatakan “Aku tahu tetapi tidak mau memberitahu.” Ia tidak berkata “sebenarnya Aku tahu secara ilahi.” Yang Ia katakan sangat sederhana: Anak pun tidak tahu.

Justru di sini kita melihat keindahan kerendahan hati Yesus. Ia tidak berusaha meninggikan diri-Nya. Ia tidak menutupi keterbatasan-Nya sebagai manusia. Ia menempatkan diri-Nya di bawah otoritas Bapa.

Ini bukan satu-satunya ayat yang menunjukkan relasi seperti ini. Dalam Yohanes 14:28 Yesus berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Dalam Yohanes 5:30 Ia berkata bahwa Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya sendiri. Dalam Markus 13:32, ayat paralel dari Matius 24:36, pernyataannya bahkan sama persis: Anak pun tidak tahu, hanya Bapa.

Artinya, gagasan bahwa “apa yang Bapa tahu pasti Anak tahu” tidak selalu sesuai dengan kesaksian Injil. Dalam konteks ini, Yesus sendiri menyangkalnya.

Lalu apa artinya semua ini?

Pertama, kita diajak untuk memahami Yesus sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri, bukan sebagaimana sistem teologi tertentu ingin menggambarkan-Nya. Yesus adalah Mesias yang diutus, Anak yang taat, hamba yang setia. Ia datang bukan untuk menjalankan kehendak-Nya sendiri, tetapi kehendak Bapa yang mengutus-Nya.

Kedua, ayat ini mengajarkan bahwa ada hierarki otoritas. Bapa memiliki pengetahuan dan kewenangan yang tidak dimiliki oleh siapa pun, termasuk Anak. Ini bukan penghinaan terhadap Yesus, justru ini menegaskan peran-Nya sebagai Anak yang tunduk penuh kepada Bapa.

Ketiga, fokus utama Yesus sebenarnya bukan pada siapa yang tahu hari kiamat, melainkan pada kesiapan hidup. Seluruh pasal 24 Matius berbicara tentang berjaga-jaga, setia, dan hidup benar, bukan tentang berspekulasi tanggal dan jam.

Namun manusia sering melakukan kebalikannya. Kita sibuk memperdebatkan detail teologis, tetapi lupa pada pesan intinya. Kita ingin tahu kapan akhir zaman, padahal Yesus berkata bahwa bahkan Anak pun tidak tahu. Kita ingin kepastian waktu, padahal Yesus justru mengajak untuk hidup dalam kesiapan setiap saat.

Jika Yesus sendiri berkata bahwa Ia tidak mengetahui hari dan saat itu, maka betapa kelirunya manusia yang mengaku-ngaku tahu tanggal kiamat. Jika Anak saja tidak tahu, bagaimana mungkin nabi palsu, pengkhotbah sensasional, atau konten viral bisa tahu?

Di sinilah kita belajar kerendahan hati iman. Tidak semua hal perlu kita ketahui. Ada rahasia yang tetap berada dalam tangan Bapa. Tugas kita bukan menyingkap rahasia itu, melainkan setia menjalani hidup sesuai ajaran Kristus.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: benarkah apa yang Bapa tahu pasti Anak tahu?

Menurut Matius 24:36, jawabannya jelas: tidak selalu. Dalam hal hari dan saat akhir itu, hanya Bapa yang tahu. Anak pun tidak.

Dan dari sini kita diajak untuk berhenti berspekulasi, berhenti berdebat tanpa ujung, dan mulai hidup berjaga-jaga, penuh iman, rendah hati, dan taat. Sebab yang terpenting bukan mengetahui kapan Ia datang kembali, tetapi apakah kita siap ketika hari itu tiba.

Recommended For You

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *